Pengkhianatan Di Saat Sulit Terasa Sangat Pahit Dan Mengerikan Konsekwensinya

Pengkhianatan Di Saat Sulit Terasa Sangat Pahit Dan Mengerikan Konsekwensinya

Penulis: Muhammad Khair Musa*

Rasulullah ﷺ‎ berangkat ke Uhud bersama seribu orang sahabatnya. Sesaat sebelum fajar tiba, Nabi ﷺ‎ berjalan bersama pasukannya di tengah kegelapan. Ketika sampai di dekat musuh, yang telah berkumpul dengan tiga ribu pasukan bersenjata lengkap, mereka bisa saling melihat karena sangat dekat.

Pada saat yang menentukan itu, Abdullah bin Ubai bin Salul mengumumkan penarikan diri dari pasukan Muslimin bersama dengan tiga ratus pasukannya, sekitar sepertiga pasukan. Ia mengatakan: Kami tidak tahu mengapa kami melakukan bunuh diri? Dia melakukan pengkhianatan di saat-saat paling sulit dengan alasan bahwa Rasulullah ﷺ‎ tidak mengikuti pendapatnya dan menuruti para pemuda yang bersemangat ingin berperang menghadapi musuh.

Abdullah bin Ubay bin Salul menarik sepertiga pasukan tempurnya, seraya berkata: Dia menaati mereka lalu pergi berperang dan tidak menaatiku. Demi Tuhan, kami tidak tahu mengapa kami melakukan bunuh diri di sini, kawan? Maka dia kembali bersama orang-orang yang mengikutinya dari kalangan munafik dan orang-orang yang ragu-ragu.

Abdullah bin Amr bin Haram ra, saudara Bani Salamah radhiyallahu ‘anhu, mengikuti mereka sambil berkata: Wahai umatku, Saya mengingatkan Anda kepada Tuhan untuk tidak meninggalkan Nabi Anda dan umat Anda ketika musuh mereka datang. Mereka berkata: Jika kami tahu kalian akan berperang kami tidak akan meninggalkan kalian, namun kami tidak melihat akan terjadi peperangan.

Karena mereka tetap membangkang terhadapnya dan bersikeras meninggalkan medan pertempran, dia (Abdullah bin Amr) berkata: Semoga Allah menjauhkan kalian wahai musuh-musuh Allah, semoga Allah mencukupkan kekuatan kami dan tidak memerlukan kalian. Lalu dia pun pergi.

Jelas bagi siapa pun yang berwawasan luas bahwa desersi Abdullah bin Ubay bin Salul bersama sepertiga pasukan bukan karena alasan yang disebutkannya. Dia bisa saja melakukan itu sebelum berangkat bersama pasukan atau sebelum tiba di medan perang. Tetapi ketika hal itu dilakukan pada saat-saat paling kritis ketika kedua pasukan saling berhadapan satu sama lain, hal ini memiliki arti tersendiri.

Pengkhianatan yang datang pada saat-saat paling genting ini bisa menggoncangkan kaki, memecah belah barisan, menusuk dari belakang, menimbulkan kebingungan, melemahkan semangat, serta menebarkan keputusasaan dan frustasi dalam jiwa.

Baca Juga:  Central Bank Digital Currency (Bagian I)

Apa yang dilakukan oleh pemimpin kaum munafik bersama kelompoknya hampir berhasil. Dua kelompok dan faksi dari pasukan Nabi ﷺ‎, yaitu Bani Haritha dari Aus, dan Bani Salamah dari Khazraj, hampir mengalami kegagalan. Mereka hendak kembali dan mundur, namun Allah menjaga dan menguatkan mereka setelah mereka terguncang oleh kekecewaan dan kekacauan yang melanda mereka. Dan tentang mereka, Allah ﷻ berfirman dalam surat Ali Imran:

اِذْ  هَمَّتْ  طَّآئِفَتٰنِ  مِنْكُمْ  اَنْ  تَفْشَلَا  ۙ وَا للّٰهُ  وَلِيُّهُمَا  ۗ وَعَلَى  اللّٰهِ  فَلْيَتَوَكَّلِ  الْمُؤْمِنُوْنَ

“Ketika dua golongan dari pihak kamu ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah penolong mereka. Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran: 122)

Pengkhianatan itu pahit dalam segala keadaan, dan paling parah di saat-saat kesusahan, di saat-saat konfrontasi, dan ketika bertemu musuh. Hal yang paling jelek dari pengkhianatan adalah ketika seseorang mencoba membenarkan kejahatannya dengan menyalahkan orang yang dikhianati sebagai penyebab pengkhianatan, seperti yang dilakukan Ibnu Salul, ia mencoba menimpakan tanggungjawab terjadinya pengkhianatan itu kepada Nabi ﷺ‎. Ia juga menyampaikan sejumlah alasan yang lemah, diantaranya perkataannya kepada Abdullah bin Amr bin Haram ra.: Seandainya kami mengetahui kalian akan berperang, pasti kami tidak akan membiarkan kalian. tetapi kami tidak melihat akan ada pertempuran.

Itulah sikap para pengkhianat sepanjang masa. Menganggap orang yang dikhianati bertanggung jawab atas pengkhianatan tersebut, dan meragukan terjadinya bahaya yang menimpanya akibat pengkhianatan tersebut. Firman Allah membantah kebohongan dan alasan yang tidak masuk akal tersebut dalam Surat Al Imran:

وَلِيَعْلَمَ  الَّذِيْنَ  نَا فَقُوْا  ۖ وَقِيْلَ  لَهُمْ  تَعَا لَوْا  قَا تِلُوْا  فِيْ  سَبِيْلِ  اللّٰهِ  اَوِ  ادْفَعُوْا  ۚ قَا لُوْا  لَوْ  نَعْلَمُ  قِتَا لًا  لَّا  تَّبَعْنٰكُمْ  ۗ هُمْ  لِلْكُفْرِ  يَوْمَئِذٍ  اَقْرَبُ  مِنْهُمْ  لِلْاِ يْمَا نِ  ۚ يَقُوْلُوْنَ  بِاَ فْوَاهِهِمْ  مَّا  لَيْسَ  فِيْ  قُلُوْبِهِمْ  ۗ وَا للّٰهُ  اَعْلَمُ  بِمَا  يَكْتُمُوْنَ 

“dan untuk menguji orang-orang yang munafik, kepada mereka dikatakan, Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu). Mereka berkata, Sekiranya kami mengetahui (bagaimana cara) berperang, tentulah kami mengikuti kamu. Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak sesuai dengan isi hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.” (QS. Ali ‘Imran: 167)

Sesungguhnya pengkhianatan di saat-saat sulit dan di saat-saat paling kritis yang membutuhkan dukungan adalah dosa besar serta kejahatan moral dan kemanusiaan. Disamping merupakan pelecehan terhadap diri sendiri dan menandakan akan datangnya hukuman buruk atas komunitas secara merata.

Baca Juga:  Larangan Meminta-minta Jika Bukan Faqir Dan Tak Terdesak

Ali bin Abi Thalib mengungkapkan hal ini ketika dia berkata:

Sesungguhnya dalam peperangan, Ka`b telah mangkir, ** Zaman telah menghinakan mereka, dan mereka telah melakukan dosa.

Betapa jujurnya penyair Bani Umayyah Ubaid bin Ayyub al-Anbari ketika mengatakan:

Jika Tuhan ingin mempermalukan suatu suku, Dia akan menimpakan perpecahan hawa nafsu dan pengkhianatan.

Sebab pertama masyarakat tidak mampu melaksanakan kewajibannya** adalah penolakan mereka yang sudah berlangsung lama terhadap hal tersebut.

Sesungguhnya pembiaran umat Islam terhadap penduduk Gaza menandakan akibat yang mengerikan, karena pengabaian termasuk salah satu larangar berat.

Al-Nawawi berkata:

“Para ulama berkata: pengabaian adalah tidak memberikan bantuan dan pertolongan. Artinya, jika dia meminta pertolongan untuk memukul mundur penindas dan sejenisnya, maka dia wajib membantunya jika dia mampu, dan dia tidak mempunyai alasan yang sah untuk tidak membantu,”

Al-Manawi dalam Fayd Al-Qadir mengatakan:

“Mengkhianati seorang mukmin dilarang keras, sekalipun dalam urusan duniawi. Seperti orang yang mampu mengusir musuh yang ingin menindasnya, namun dia tidak mengusirnya.”

Akibat dari pengkhianatan ini, sebagaimana dijelaskan oleh Nabi ﷺ‎ adalah: Allah akan menghinakan umat ini, tidak menyiapkan pihak yang akan membela kehormatannya, menimpakan rasa takut, lapar, kehinaan dan kenistaan. Sabda Nabi ﷺ‎:

“Tidak ada seorang pun yang membiarkan seorang Muslim di negara yang kehormatannya dihina, dan dilecehkan kesuciannya kecuali Allah Yang Maha Esa meninggalkannya di tempat yang dia ingin mendapat pertolongan-Nya”.” (Musnad Ahmad)

Akankah masyarakat kita bangun dan sadar sebelum siklus ini menimpa mereka?!

)* Penulis adalah Anggota Kantor Eksekutif Persatuan Ulama Palestina. (ars)

Penerjemah Ustadz Aunur Rafiq Sholeh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.