Saya yakin banyak yang sebenarnya bingung tentang bagaimana hakikat geopolitik Timur Tengah & Teluk Persia, maka mungkin tulisan yang relative singkat ini dapat membantu memahaminya.
🔴 Kerangka Teoretis – Realisme vs Idealisme
Untuk memudahkan, kita memakai kacamata Classic Realism-nya Hans Morgenthau, di mana negara adalah “aktor rasional” yang tujuan utamanya adalah “survival & power”.
Dengan memakai kacamata ini, maka retorika agama (seperti: Zionisme atau Ṡīàh Rōfiḍoh) seringkali hanya menjadi “bungkus” dari kepentingan keamanan negara yang sangat pragmatis, sehingga kita bisa melihat bahwa konflik di Teluk Persia ini adalah contoh klasik dari “security dilemma” — di mana langkah satu pihak untuk mengamankan diri (misalnya: pengembangan nuklir, rudal balistik, dan drone oleh Iran / IRN) secara otomatis membuat pihak lain (koloni pemukim illegal Yahūdiyy Zionist / ISR) merasa terancam, sehingga memicu “arms race” (perlombaan senjata).
🔴 Kepentingan Iran / IRN – More Than Just Theocracy
Iya memang rezim penguasa IRN itu adalah “Rezim Teokrasi” dan berkeinginan menyebarkan àqīdah sesat Rōfiḍohnya, namun secara geopolitik, kepentingan IRN lebih dalam, yaitu:
⚡️ Deterrence (penangkalan), di mana IRN sangat menyadari bahwa alutsista militer konvensionalnya itu sudah tua, maka mereka membangun “Axis of Resistance” (dengan Hezbollah di Lebanon / LBN, al-Ḥūṫiyy di Yaman / YEM, dan al-Àlawiyyūn di Sūriyā / SYR) sebagai “forward defense”.
⚡️ Regional Legitimation, dengan menjadikan dirinya sebagai satu-satunya kekuatan yang berani menyerang langsung Judeo-Christian Zionist, maka IRN sedang sebenarnya melakukan branding politik untuk menantang kepemimpinan Àrab Saȕdiyy / SAU di Dunia Islām, dan berusaha meruntuhkan sekat sektarian (Sunniyy-Ṡīìyy) untuk menyebarkan àqīdah sesat Rōfiḍoh-nya.
🔴 Kepentingan Koloni Pemukim Illegal Yahūdiyy Zionist / ISR – Eksistensi vs Ekspansi
Tak bisa dipungkiri bahwa cita-cita Judeo-Christian Zionism adalah mendirikan “Eretz Yisrael HaShlema” (atau: The Greater Israel yang membentang dari Nil ke Eufrat) yang mana ini tertuang dalam “Begin Doctrine”-nya Menachem Begin. Doktrin tersebut menjadikan rezim penguasa ISR takkan membiarkan negara tetangga mana pun (terutama IRN) memiliki “Weapon of Mass Destruction” – ini adalah kepentingan nasional yang “non-negotiable” bagi mereka.
Siapapun rezim penguasa di ISR mereka pasti akan melakukan “Domestic Distraction”, yaitu: perang, sebagai alat untuk menyatukan faksi-faksi politik internal yang sedang terpecah di dalam entitas ISR tersebut — itulah sebabnya sebelum Ṭūfānul-Aqṣō pada 7 Oktober 2023, begundal 🐒&🐖 Yahūdiyy Zionist selalu menyerang bangsa Palestina di Ġazzah setiap tahunnya.
🔴 Àrab Saȕdiyy / SAU & GCC – Economics Pragmatism Above Solidarity
Aktor penting di sini adalah:
⑴. Àrab Saȕdiyy / SAU
Saat ini SAU sedang berada dalam fase “Internal First” dengan Visi 2030nya, sehingga stabilitas regional adalah harga mati bagi keberhasilan proyek Neom dan economic diversification-nya. Perang IRN vs ISR + USA hanya akan mengganggu arus modal asing.
Konsekwensi dari Visi 2030nya tersebut adalah terjadi pergeseran paradigma di mana bagi Riyadh, IRN yang memiliki kuat apalagi memiliki WMD (walau mereka juga tahu itu sebenarnya “kemauan” IRN jauh dari itu) adalah jauh lebih menakutkan secara eksistensial daripada eksistensi ISR yang selama ini secara diam-diam menjadi mitra intelijen mereka dalam membendung pengaruh Teheran.
⑵. UAE – Si “Licik Lagi Keji”
UAE adalah arsitek pragmatisme dan “status quo” baru, yang mana ini sangat terlihat dari pergeseran radikal UAE dari konsensus Àrab lama ke arah aliansi strategis dengan Barat dan ISR.
Eksistensialisme anti-Islām politik: Kepentingan nasional adalah yang paling utama bagi rezim penguasa UAE, yang mana itu adalah membasmi segala bentuk Islām Politik (seperti: IM / al-Iḳwānul-Muslimīn). Mereka melihat gerakan IM sebagai ancaman nyata bagi stabilitas monarki, sehingga mereka sangat memusuhi faksi-faksi perlawanan di Palestina yang berafiliasi dengan IM.
Abraham Accords sebagai perisai: Bagi UAE, normalisasi dengan ISR bukanlah soal perdamaian, akan tetapi soal “akses” kepada:
- teknologi militer mutakhir (seperti jet F-35, sistem pertahanan THAAD),
- data intelijen untuk membendung IRN, dan
- finansial global karena mereka bercita-cita menjadi pusat keuangan dan teknologi dunia sehingga konflik yang berkepanjangan hanya akan merusak citra “ramah bisnis” bagi UAE.
Proxy war: UAE sangat aktif melakukan intervensi di Yaman / YEM, Libya / LBY, hingga Sudan / SDN. Kepentingannya adalah menguasai pelabuhan-pelabuhan strategis dan memastikan tidak ada pemerintahan demokratis apalagi Islāmiyy yang naik ke tampuk kekuasaan di sekitarnya.
Kedaulatan maritim: UAE melalui DP World juga mengincar kontrol atas pelabuhan-pelabuhan di wilayah Horn of Africa untuk memastikan jalur logistik mereka aman dari pengaruh IRN di Laut Merah.
⑶. Qoṭr / QAT – Si “Kancil” yang Menabung Nyawa di Banyak Arena
QAT ini “main di banyak sisi”, sebab bagi negara sekecil QAT menjadi “indispensable” (tak tergantikan) bagi semua pihak adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup agar tidak dianeksasi atau dikucilkan oleh negara tetangganya.
Hedge Betting: Kita tahu QAT menampung pangkalan militer USA terbesar di kawasan (al-Udeid), namun di saat yang sama mereka menyediakan kantor politik bagi Ḥ4M4S dan menjalin hubungan yang sangat baik dengan Ṫōlibān. Pertanyaannya tentu adalah: “Mengapa?”. Maka ini harus dilihat sebagai kecerdikan dari pemimpin QAT, Tamīm ibn Ḥamad ibn Ḳolīfa Ālu-Ṫāniyy, karena ia melihat bahwa saat dunia butuh untuk bernegosiasi, maka semua orang harus datang ke Doha (Dūḥah).
Simbiose gas dengan IRN: QAT berbagi ladang gas alam terbesar di dunia (yaitu: South Pars / North Dome) dengan IRN. Kepentingan nasional mereka adalah menjaga hubungan baik dengan Teheran agar aliran USD dari ladang gas tersebut tidak terganggu oleh konflik militer.
Soft Power via al-Jazeera: QAT menggunakan media al-Jazeera sebagai senjata diplomatik. Al-Jazeera memberikan panggung bagi narasi perlawanan Palestina, yang seringkali bertabrakan dengan kepentingan UAE dan SAU. Ini adalah cara QAT menjaga dukungan di level grassroots Dunia Islām sekaligus menekan lawan-lawan politiknya.
🔴 Amerika Serikat / USA – Sang Penjaga Hegemony & Arsitek Status Quo
Dalam kacamata kepentingan nasional, USA tidak pernah bergerak berdasarkan sentimen moral, melainkan pada tiga pilar utama, yaitu:
⑴. Global Power Projection
Bagi USA, mendukung ISR bukan hanya karena lobby domestik di Washington, tetapi secara strategis entitas ISR tersebut berfungsi sebagai:
⒜. Aset militer statis, sebuah kekuatan militer paling modern di jantung Timur Tengah yang sepenuhnya sejalan dengan kepentingan Barat. Ini menghemat biaya USA karena mereka tidak perlu menempatkan jutaan tentara secara permanen di sana, tetapi cukup dengan menyuplai senjata dan teknologi kepada sekutu yang “proksi” utama ini. ISR juga menjadi laboratorium tempur karena konflik di sana menjadi ajang uji coba bagi teknologi militer USA terhadap alutsista buatan Russia / RUS atau China / CHN. Walau demikian, konflik dengan IRN yang terjadi bisa menjadi bantahan tentang teori ini, sebab kita melihat bahwa adalah ISR lah yang mengendalikan USA.
⑵. Security of Global Energy Flow
Meski kini USA sudah menjadi produsen minyak terbesar di dunia, kepentingan nasional mereka tetap bergantung pada stabilitas harga global.
⒜. Kontrol Selat Hormuz, USA berkepentingan agar IRN tidak mampu menutup Selat Hormuz dan atau Bābul-Mandab. Jika kedua jalur ini terganggu, ekonomi global —termasuk sekutu USA di Eropa dan Asia— akan kolaps, yang pada gilirannya akan menghantam perekonomian USA.
⒝. USD sebagai Reserve Currency, menjamin minyak tetap diperdagangkan dalam USD (Petrodollar) adalah kepentingan vital untuk mempertahankan dominasi ekonomi USA. Penting untuk menekankan bahwa ancaman terbesar bagi USA bukan hanya berhentinya aliran minyak, akan tapi transisi perdagangan energi ke mata uang lain (de-dollarisasi) yang sedang diupayakan oleh blok BRICS.
⑶. Iran Containment Strategy
USA melihat IRN bukan hanya sebagai ancaman bagi ISR, tetapi sebagai penantang tatanan dunia yang dipimpin USA (US-led global order / Pax Americana):
⒜. Nuclear deterrance, kepentingan utama USA adalah memastikan tidak ada “perlombaan senjata nuklir” di Timur Tengah yang dipicu oleh IRN, karena hal itu akan membuat kawasan tersebut jadi sangat sulit dikendalikan.
⒝. Melemahkan Aliansi BRICS, USA ingin memutus rantai pasokan antara IRN, RUS, dan CHN di kawasan ini.
⑷. Dilema “Pivot to Asia”
Sebenarnya, sejak era Obama hingga Biden, USA ingin mengurangi kehadiran mereka di Timur Tengah untuk fokus membendung kekuatan CHN di Pasifik. Namun:
⒜. USA selalu “terjebak” karena setiap kali mereka mencoba menarik diri, konflik antara IRN dan ISR memanas kembali, yang mana itu memaksa USA untuk mengirimkan kapal induknya lagi. Bisa jadi eskalasi ini memang disengaja oleh rezim ISR agar mereka tak kehilangan bodyguard gratisannya.
⒝. Kepentingan Nasional, USA tidak mau meninggalkan power vacuum yang setiap saat bisa langsung diisi oleh RUS atau CHN.
Bagi USA, Palestina adalah isu sekunder, sebab prioritas utama mereka adalah memastikan ISR tetap menjadi kekuatan dominan yang tidak tertandingi (Qualitative Military Edge) agar kepentingan ekonomi dan politik USA di kawasan tetap aman dari gangguan IRN dan sekutu timurnya.
🔴 Türkiye / TUR – Pragmatisme Neo-Ottoman
TUR di bawah Erdoğan menjalankan kebijakan luar negeri yang sangat dinamis (dan seringkali membingungkan bagi pengamat àwāmm). Kepentingan nasional mereka adalah:
⑴. Kepemimpinan Dunia Islām, di mana TUR bersaing dengan SAU dan IRN untuk menjadi “wajah” utama pembela Palestina. Retorika keras Erdoğan erhadap ISR adalah instrumen soft power yang sangat efektif untuk meraih simpati di akar rumput Dunia Islām (Sunniyy).
⑵. Otonomi Strategis (NATO tapi Mandiri), sebagai anggota NATO, Türkiye butuh Barat, namun mereka tak mau didikte. TUR menggunakan isu konflik ini untuk menaikkan nilai tawar mereka di mata USA dan Eropa.
⑶. Keseimbangan Ekonomi, meski retorikanya sangat tajam, hubungan dagang Türkiye dengan ISR seringkali tetap berjalan (meski fluktuatif). Kepentingan ekonomi domestik sering menjadi rem bagi langkah militer atau diplomatik yang terlalu ekstrem.
🔴 Russia / RUS – Sang “Spoiler” Global
Bagi Vladimir Putin, Timur Tengah adalah papan catur untuk melawan dominasi USA, sehingga kepentingan RUS di kawasan ini sangat kalkulatif:
⑴. Pengalihan isu (distraction), semakin membara konflik IRN vs ISR, semakin terpecah fokus dan sumber daya USA. Russia sangat diuntungkan jika bantuan militer USA terbagi antara Ukraina / UKR dan Timur Tengah.
⑵. Aliansi taktis dengan IRN, RUS membutuhkan IRN (terutama pasokan drone dan kerja sama militer) untuk perang di UKR. Oleh karena itu, Kremlin akan cenderung membela IRN di forum internasional (seperti PBB) sebagai imbal balik atas dukungan Teheran.
⑶. Broker keamanan di SYR, RUS memiliki pangkalan militer di SYR, yaitu: LanAU Hmeimim (Latakia) dan LanAL Tartus. Keberadaan pangkalan militer RUS di SYR saat ini bukan lagi sebagai “penyelamat rezim” seperti era al-Assad, melainkan sebagai instrumen diplomasi transaksional.
⒜. Bagi SYR: membiarkan RUS tetap di Hmeimim dan Tartus adalah cara Presiden Aḥmad aṡ-Ṡarō` untuk memiliki “kartu tawar” terhadap USA. Jika RUS disuruh pergi sepenuhnya, maka SYR akan terlalu bergantung pada TUR atau IRN.
⒝. Bagi Russia: bertahan di SYR adalah “harga diri” geopolitik agar mereka tetap dianggap sebagai pemain global di Mediterania, meskipun sebagian besar sumber daya mereka tersedot ke perang dengan UKR. Kepentingan RUS adalah menjaga agar perang IRN vs ISR + USA tidak meluap ke SUR. RUS memposisikan diri sebagai satu-satunya aktor yang bisa “berbicara dengan semua pihak” (IRN, Àrab, bahkan dengan entitas ISR).
🔴 Palestina – The Political Commodity
Sebenarnya saat ini tidak ada satupun pemimpin negara-negara Àrab, IRN, ataupun TUR yang menjadikan kemerdekaan Palestina sebagai isu penting melainkan hanya “instrumentalisasi isu” saja.
Penderitaan bangsa Palestina dan narasi pembebasan mereka tak lagi dijadikan “end goal”, melainkan dijadikan instrument atau komoditas politik untuk mencapai kepentingan lain yang seringkali tidak berhubungan langsung dengan kesejahteraan rakyat Palestina itu sendiri. Instrumentalisasi ini dalam bahasa modern sering disebut sebagai “Geopolitical Virtue Signaling” — menunjukkan keberpihakan moral demi menaikkan reputasi, tanpa niyyat melakukan aksi nyata.
Berikut adalah bagaimana berbagai aktor melakukan “instrumentalisasi” tersebut:
⑴. Palestina Sebagai “Safety Valve” Domestik
Banyak rezim di Timur Tengah menggunakan retorika pembebasan Palestina untuk mengalihkan kemarahan rakyat mereka dari isu-isu domestik (seperti korupsi, ekonomi yang buruk, atau kurangnya kebebasan politik) yaitu dengan mengobarkan semangat anti-kolonialisme Judeo-Christian Zionist, maka rezim pemerintahnya dapat menyatukan rakyat di bawah satu musuh bersama. Dukungan ini biasanya berhenti pada level demonstrasi jalanan atau retorika di televisi, namun jarang diterjemahkan menjadi kebijakan politik-militer yang nyata yang bisa mengubah keadaan di lapangan.
⑵. Palestina Sebagai “Alat Legitimasi” Regional
Dalam persaingan memperebutkan gelar “Pemimpin Dunia Islām”, isu Palestina adalah kartu as:
⒜. Kasus IRN, dengan mendukung faksi-faksi perlawanan, IRN membangun citra sebagai satu-satunya kekuatan yang berani melawan Judeo-Christian Zionist. Ini adalah cara efektif untuk menembus batas sektarian (Sunniyy-Ṡīìyy) dan mendapatkan simpati dari akar rumput kaum Muslimīn di seluruh dunia.
⒝. Kasus TUR, retorika keras di forum internasional seringkali ditujukan untuk memperkuat posisi domestik dan citra Erdoğan sebagai “pembela kaum tertindas” di mata Dunia Islām, meskipun hubungan ekonomi-taktis dengan ISR di balik layar tetap berjalan dengan dinamika tersendiri.
⑶. Palestina sebagai “Bargaining Chip” Diplomasi
Negara-negara besar sering menggunakan isu Palestina sebagai alat tukar guling di meja perundingan internasional:
⒜. USA, seringkali menjanjikan “2 States Solution” sebagai cara untuk membujuk negara-negara Àrab agar tetap berada dalam orbit pengaruh mereka atau untuk melegalkan langkah-langkah normalisasi. Isu Palestina dijadikan “pemanis” diplomatik untuk menutupi prioritas utama mereka: keamanan absolut bagi ISR.
⒝. SAU & UAE, isu Palestina terkadang digunakan sebagai daya tawar untuk mendapatkan konsesi militer atau politik dari USA. “Kami akan menormalisasi hubungan jika kalian memberikan kami jet tempur F-35 atau menjamin keamanan kami dari IRN”. Di sini hakikatnya nasib rakyat Palestina hanyalah catatan kaki dalam transaksi besar tersebut.
⑷. Palestina sebagai “Komoditas Media & Ekonomi” (The Qoṭr Strategy)
Melalui media seperti al-Jazeera, Qoṭr berhasil memposisikan diri sebagai suara bagi perjuangan Palestina. Tujuan sebenarnya adaIah memberikan Qoṭr soft power yang luar biasa karena dengan menjadi “pelindung” narasi Palestina, Qoṭr memiliki perlindungan moral di mata publik Dunia Islām yang membuat tetangga-tetangganya (seperti SAU dan UAE) sulit untuk menyerang mereka secara langsung tanpa terlihat seperti “pengkhianat perjuangan”.
☠️ Dampak Buruk “Instrumentalisasi” bagi Palestina
⒜. Konflik abadi, karena isu ini sangat berguna sebagai alat politik, beberapa aktor secara tak sadar (ataupun sadar dan sengaja) tak menginginkan konflik ini benar-benar selesai. Palestina yang merdeka dan stabil mungkin tak lagi bisa digunakan sebagai alat tekan atau pengalihan isu.
⒝. Ketergantungan faksi, faksi-faksi internal Palestina (Ḥ4M4S, Fataḥ, dlsb) terkadang terjebak menjadi proksi dari donor mereka, sehingga agenda mereka terkadang harus menyesuaikan dengan national interest negara penyokongnya, bukan murni aspirasi rakyat Palestina.
⒞. Kelelahan moral, publik internasional mulai melihat isu ini sebagai drama geopolitik yang tak berujung, yang pada akhirnya mau tak mau mengurangi empati tulus terhadap krisis kemanusiaan yang terjadi di sana (yang mana alhamdulillāh utuk sementara bisa dicegah bahkan dibalikkan dengan Àmaliyyah Ṭūfānil-Aqṣō).
Instrumentalisasi ini menunjukkan sisi gelap dari “The Real Politics”, karena Palestina bukan lagi dilihat murni sebagai bangsa yang sedang berjuang mencapai kemerdekaannya, melainkan sekadar “papan catur” di mana setiap pemain memindahkan pion-pionnya demi keuntungan negara mereka sendiri. Itulah mengapa jangan terlalu tinggi berharap pada negara-negara Àrab, atau kepada IRN, ataupun kepada TUR, namun WAJIB untuk:
- memperkuat doa kepada Allōh ﷻ untuk kekuatan & keteguhan, dan kemenangan Mujāhiddīn Palestina,
- memperkuat aksi pribadi dan komunitas untuk membantu kemerdekaan Palestina.
Demikian, semoga bermanfaat.
M. Arsyad Syahrial SE, MF
Pengamat Ekonomi dan Pergerakan Islam
Alumni RMIT University, Melbourne, Australia


