7 Tahapan Keruntuhan Kekaisaran

7 Tahapan Keruntuhan Kekaisaran

Nothing new under the sun, history repeats itself. Para pembelajar sejarah pasti melihat bahwa ada pola yang sangat terbaca bahwa dunia saat ini tidak sedang baik-baik saja.

Dari sejarah kita dapati ada yang namanya “Pax”, yaitu entitas yang sangat kuat sehingga mampu menciptakan perdamaian (pax) dan kestabilan dunia — tentunya perdamaian & kestabilan versi entitas tsb. Sejauh ini ada 3 entitas yang selalu disebutkan jika bicara tentang “perdamaian”, yaitu: “Pax Romana”, “Pax Britannica”, dan “Pax Americana”.

Namun nothing last forever, dan dalam 500 tahun terakhir setidaknya ada 3 kekaisaran besar dunia —Spanyol (ESP) pada Abad XVI, Inggris (GBR) pada Abad XIX – XX awal, dan Uni Soviet (SUN) pada Abad XX— yang runtuh dengan pola yang hampir-hampir identik. Adapun jika kita melihat fakta pada saat ini, Amerika Serikat (USA) tampaknya sedang berada di Tahap ke-5 dari 7 tahap menuju keruntuhan sebagaimana yang dialami oleh ESP, GBR, dan SUN.

Apa saja tahapannya itu?

Mari kita bahas…

🔴 Tahap I — Overekstensi Militer

Ketika suatu kekaisaran terlalu banyak memiliki koloni, terlalu ingin ikut campur urusan di mana-mana, maka mau tidak mau kekuatan militernya harus dikerahkan ke mana-mana. Pengerahan kekuatan militer itu tidaklah murah, bahkan kekaisaran di masa lalu semisal Romawi tahu betul hal ini.

Sebuah kekaisaran mulai runtuh ketika ia mencoba menguasai dunia tapi tak sanggup membayar biayanya. Dulu Romawi bangkrut karena hal ini. Lalu Kekaisaran Spanyol bangkrut karena berperang di 4 benua. Kerajaan Inggris kelelahan karena harus menjaga koloni di 6 benua. Begitu juga Uni Soviet sampai bangkrut karena harus membiayai perang di Afghanistan, Kuba, dan negara-negara Komunis satelitnya.

Sekarang?

Kita lihat USA punya 750 basis militer di 80 negara dengan anggaran militer USD 850milyar /tahun. Lihat saja jejak campur tangan militer USA di mana-mana, Afrika, Eropa, Timur Tengah, Asia, Australia, Amerika Latin. Alasannya tentu adalah demi menjaga kepentingan negaranya.

Masalahnya?

Kita lihat USA kesulitan mencari pendanaan. Lihat saja setiap tahun USA itu bermasalah dengan APBNnya (karena dibiayai dengan menjual surat utang) dan harus ribut dulu dengan Senat / DPR. Sedangkan alutsista mereka pun mulai menua.

🔴 Tahap II — Penurunan Nilai Mata Uang

Karena militer itu sangat mahal, maka pendanaannya pasti membebani anggaran negara. Ketika pajak tidak cukup untuk membiayai militer, maka pemerintah mulai “merusak” uangnya sendiri.

Pada masa lalu Kekaisaran Spanyol mencampur perak dengan tembaga agar bisa membuat lebih banyak koin. Hasilnya? Inflasi gila-gilaan!

Adapun pada masa sekarang kita lihat USA yang sejak keputusan Nixon di tahun 1971, USD tidak lagi dijamin dengan emas. Sejak tahun 2000, jumlah uang beredar sudah naik sampai 400% akibat The Fed terus mencetak uang yang dibiayai dengan menjual US Treasury Bond.

Dampaknya?

USD telah kehilangan 98% daya belinya dari sejak 50 tahun lalu.

🔴 Tahap III — Utang Menggila

Akibat terus menerus berutang, maka yang terjadi adalah “gali lubang tutup lubang”. Semua tahu ini adalah sangat berbahaya, akan tetapi . Negara mulai meminjam uang hanya untuk membayar bunga dari utang lama.

Dari data, kita ketahui bahwa utang USA sekarang sudah menembus USD 38trilyun ( ≈ IDR 643.000trilyun) yang mana itu sudah lebih besar dari GDPnya. Utang sebanyak itu untuk pembayaran bunganya saja sudah lebih besar daripada total anggaran militer mereka sendiri. BTW, jika utang itu dinilai dengan emas, maka itu adalah ≈ 257.000 Ton, sementara cadangan emas USA sendiri cuma 8.133 Ton.

Pada masa lalu Kekaisaran Spanyol sampai berkali-kali default (gagal bayar) atas utangnya.

Adapun pada masa sekarang Amerika mungkin masih merasa aman karena status USD yang menjadi “reserve currency” dunia. Jadi mereka bisa terus menjual surat utang (US Treasury Bond) lalu mencetak uang dari hasil penjualannya.

🔴 Tahap IV — Hilangnya Kapasitas Produksi

Ketika suatu kekaisaran menjadi kaya —baik itu sebagai akibat dari penaklukkan wilayah yang mempunyai SDA yang kaya maupun akibat dari produktifitas yang tinggi— maka mereka menjadi kaya. Uang mengalir masuk sehingga mata uangnya pun menguat. Akibatnya barang-barang import menjadi murah. Ini membuat mereka mulai “malas” lalu berhenti memproduksi barang dan memilih untuk impor.

Baca Juga:  Al Hallucination

Dulu Kekaisaran Spanyol di Abad XVII karena merasa terlalu kaya dengan merampok perak dalam jumlah gila-gilaan dari Amerika Latin, akibatnya mereka berhenti bertani dan memproduksi, sebab membeli jadi “lebih murah”. Maka mereka pun lalu membeli semuanya dari negara lain.

Sekarang USA telah “memindahkan” hampir semua pabriknya ke luar negeri (CHN, MEX, dll). USA bergantung pada pihak luar untuk kebutuhan dasar, bahkan untuk komponen militer mereka sendiri!

Gone those mighty American Industries that won World War II. Tidak ada lagi pabrik baja yang mensuplai baja untuk pabrik mobil dan pabrik kapal terbesar di dunia. USA sudah kalah dalam comparative advantage perdagangan internasional. Pabrik baja sudah diambil oleh Baowu Group CHN. Pabrik mobil terbesar sudah digeser Toyoya JPN. Pabrik kapal terbesar sudah diduduki CS Group CHN. Pabrik pesawat terbesar sudah digeser oleh Airbus (EU).

🔴 Tahap V — Pembusukan & Dekadensi Sosial

Perekonomian yang gagal akan merusak moral bangsa. Ini adalah tahap di mana masyarakat mulai terpecah.

Tanda-tanda sangat jelas, yaitu:

  • Kepercayaan pada pemerintah hilang.
  • Tingkat kriminalitas tinggi.
  • Angka tunawisma melonjak.
  • Polarisasi politik yang sangat tajam (anak bangsa berpecah-belah).

Orang-orang yang memiliki produktifitas tinggi akan merasa tidak ada gunanya bekerja keras jika sistemnya rusak. Mereka memilih untuk pergi meninggalkan negaranya mencari penghidupan yang lebih baik di negara lain.

Pola ini terlihat di semua kekaisaran yang runtuh, ESP, GBR, dan SUN… dan sekarang USA juga.

Pada tahapan ini musuh-musuh dari kekaisaran tersebut karena melihat kekaisaran tersebut sudah keropos dari dalam, maka mereka mulai mengetest atau cari gara-gara. Pada masa sekarang kita lihat CHN menjajal USA di Greenland. Jajal ini tak perlu dalam bentuk perang, tapi soft saja seperti yang dilakukan CHN di Greenland.

Greenland bukan sekadar pulau es yang sepi namun ia adalah kunci strategis di masa depan karena tiga alasan utama, yaitu:

  • Geografis, karena letak geografisnya menjadikan ia “mengontrol” rute pelayaran Arktik yang mulai terbuka karena pencairan lapisan es di Kutub Utara, sehingga membuka jalur pelayaran baru Asia – Eropa yang dapat memotong waktu pengiriman hingga berpekan-pekan.
  • Ekonomi, karena memiliki jutaan ton cadangan rare earth mineral yang sangat dibutuhkan untuk “green technology”, serta puluhan milyar cadangan barrel minyak & gas.

Secara militer Greenland sangat penting karena ia adalah lokasi sistem peringatan dini paling utara milik USA untuk mendeteksi rudal balistik antar benua yang diluncurkan oleh RUS dan CHN.

Babah Xi Jin Ping menggunakan strategi kuno “Ji Jang Gi” (seni memprovokasi musuh agar menghancurkan diri sendiri) yang intinya adalah tak menyerang musuh secara langsung, melainkan memancing mereka membuat keputusan emosional dan gegabah yang merusak reputasi atau aliansi mereka sendiri.

Ketika Terompah pertama kali naik di 2016, maka para ahli intelijen dan strategi militer CHN mempelajari profil psikologis si Terompah dan mereka menemukan bahwa Terompah memiliki ego besar bahkan cenderung narsis, dan sangat tidak suka terlihat lemah atau dihina. Ini sangat terlihat terutama setelah kegagalan usulannya membeli Greenland pada 2019.

Maka CHN pun melakukan operasi bertahap untuk memancing reaksi USA, yaitu sebagai berikut:

  • Langkah 1: meningkatkan investasi di Greenland melalui perusahaan proksi pada 2021-2024 untuk memicu alarm intelijen USA.
  • Langkah 2: ketika Terompah terpilih kembali di November 2024, maka CHN membocorkan proposal (yang sangat mungkin sebenarnya tidak serius) untuk menyewa pelabuhan di ibu kota Greenland, Nuuk, pada Desember 2025.
  • Langkah 3: menunggu reaksi impulsive Terompah, dan pada Januari 2026 Terompah menyatakan bahwa USA “harus memiliki Greenland” untuk mencegah RUS & CHN mengambilnya. Bahkan kini Terompah mengenakan tariff import 10% mulai 1 Februari 2026 bagi negara-negara Eropa —Denmark (DNK), Norwegia (NOR), Swedia (SWE), Prancis (FRA), Jerman (DEU), Inggris (GBR), Belanda (NLD), Finlandia (FIN)— yang dianggapnya menentang rencananya untuk mengakuisisi Greenland. Tarif ini akan menjadi 25% pada 1 Juni sampai dengan ditandatanganinya perjanjian jual-beli Greenland.
Baca Juga:  Central Bank Digital Currency (Bagian IV): Debt Based Money

Pernyataan Terompah tersebut tentu memicu kemarahan di DEN dan sekutu-sekutu NATO lainnya yang menganggapnya sebagai pelanggaran kedaulatan. Uni Eropa menjadi kebingungan dan ragu terhadap USA yang selama ini telah menjadi pemimpin aliansi Barat yang menghormati sekutunya. Hal ini tentu saja berdampak pada retaknya NATO (North Atlantic Treaty Organisation), dan memang itulah yang menjadi target utama CHN, bukan menguasai pulau tersebut, melainkan memecah-belah persatuan Barat. Sementara CHN memposisikan diri sebagai aktor yang “stabil dan rasional” yang mengedepankan investasi, bukan imperialis yang berambisi mengambil-alih wilayah.

🔴 Tahap VI — Kehilangan Status Reserve Currency

Akumulasi dari Tahap I s/d V membuat dunia mulai mencari alternatif selain mata uang kekaisaran tersebut. Saat ini, kita melihat fenomena BRICS dan negara-negara yang mulai meninggalkan USD dalam perdagangan petroleum. Ini adalah “the final nail” sebelum peti mati tertutup.

Ketika USD dicetak terus menerus dengan menjual surat utang (US Treasury Bond), lalu pembayarannya dengan USD lagi, maka lama-lama orang tak lagi menganggap USD sebagai sesuatu yang berharga. USD pasti akan mengalami depresiasi yang dahsyat.

Proses ini sudah dimulai dengan CHN yang melepas lebih separuh dari US Tresury Bond yang dimilikinya senilai USD 682,6milyar at loss. US Tresury Bond itu lalu dibeli oleh GBR dan Belgia (BEL). Celakanya Terompah malah mau mengenakan tariff kepada Inggris terkait Greenland.

Hal ini di masa lalu terjadi pada Real Kekaisaran Spanyol di Abad XVII (yang di-debased sama pemerintahnya sendiri dengan mencampur perak dengan tembaga), lalu pada GBPnya Kerajaan Inggris selepas Perang Dunia II yang diperparah lagi Inggris kehilangan sumber pendapatan bersarnya yaitu koloninya di India dan Malaya.

Ketika status Reserve Currency itu hilang, maka USA tak lagi bisa seenaknya mencetak USDnya, dan USA pun pasti akan default (gagal bayar utang).

Nah kalau sudah begini, maka pasti akan masuk ke tahap terakhir…

🔴 Tahap VII — Keruntuhan Total

Keruntuhan total kekaisaran modern itu tidaklah seperti hancurnya Roma yang proses runtuhnya berlangsung perlahan selama berabad-abad yang ditutup dengan peristiwa yang sangat dramatis yaitu invasi Bangsa Vandal (dipimpin Gaiseric) pada 455 CE, lalu gong terakhir oleh invasi Bangsa Germanic (dipimpin oleh Odoacer) pada 476 CE yang menggulingkan kaisar terakhir Roma, Romulus Augustulus.

Tidak.

Akan tetapi kehancuran kekaisaran modern itu sifatnya implosion (ledakan ke dalam). Sejarah membuktikan itu yang terjadi pada Kekaisaran Spanyol yang terjadi selama 100 tahun di Abad XVII. Lalu Kerajaan Inggris yang terjadi dalam kurun 50 tahun (pasca Perang Dunia I hingga Dekade 50an). Lalu Uni Soviet yang berubah dari negara adidaya menjadi “tidak ada” hanya dalam waktu 900 hari.

Semuanya tanpa perang besar, tetapi implosion akibat sistem internalnya sudah busuk sampai ke akar.

🔴 Penutup

Keruntuhan Pax Americana itu persoalannya tidak pernah tentang “apakah akan”, akan tetapi soal “kapan”.

Ketika “Cold War” selesai dengan bubarnya Uni Soviet, para analisis menggadang-gadang akan terbentuk “Pax Consortis”, karena diharapkan setelah Warsaw Pact bubar maka NATO secara sukarela akan membubarkan diri pula, sehingga akan ada “konsorsium” negara-negara besar yang menjaga perdamaian dunia. Akan tetapi ternyata NATO menolak membubarkan diri, malahan jualan membership sampai ke Kiev sehingga membuat Putin mengamuk.

Sekarang analis sepertinya mengatakan suka tak suka akan terbentuk “Pax Sinica”, yaitu CHN (China Daratan) sebagai pemimpinnya.

Satu hal lagi, keruntuhan kekaisaran itu tidak selalu harus hancur seperti Roma, tapi bisa jadi irrelevant seperti ESP dan GBR sekarang, atau berubah jadi entitas baru yang walau juga kuat karena punya senjata nuklir seperti SUN menjadi RUS, tetapi tidak lagi jadi adidaya.

Demikian, silakan kalau mau diskusi.

M. Arsyad Syahrial SE, MF
Pengamat Ekonomi dan Pergerakan Islam
Alumni RMIT University, Melbourne, Australia

Bagikan Artikel:

==========================================

Yuks!, perbanyak amal jariyah dengan ikut berpartisipasi dalam upaya meningkatkan kualitas dakwah islamiyah bersama Pesantren Bina Insan Kamil, salurkan donasi terbaik Antum melalui rekening:

Bank Syariah Indonesia
7000 7555 00
a/n Bina Insan Kamil Pramuka

Kode Bank: 451

Konfirmasi Transfer:
https://wa.me/6282298441075 (Gita)

Ikuti juga konten lainnya di sosial media Pesantren Bina Insan Kamil:
Instagram: https://www.instagram.com/pesantrenbik
Fanspage: https://www.facebook.com/pesantrenbik
YouTube: https://www.youtube.com/c/PesantrenBIK

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *