Narasi Sejarah tentang Akhir Kekhalifahan Fatimiyah Al-Adid li-Din Allah dan Peran Salahuddin Al-Ayyubi

Narasi Sejarah tentang Akhir Kekhalifahan Fatimiyah Al-Adid li-Din Allah dan Peran Salahuddin Al-Ayyubi

Oleh: Anshari Taslim

Sejarah Islam klasik mencatat berbagai peristiwa wafat tokoh penting yang seringkali disertai tuduhan peracunan. Salah satu kasus yang paling diperdebatkan adalah wafatnya al-‘Āḍid li Dīnillāh, khalifah terakhir Dinasti Fāṭimiyah, bertepatan dengan naiknya kekuasaan Ṣalāḥuddīn al-Ayyūbī dan berakhirnya kekhalifahan Fāṭimiyah di Mesir.

Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah:

  1. Apakah benar terjadi peracunan terhadap al-‘Āḍid?
  2. Bagaimana perbandingan riwayat dalam sumber-sumber klasik?
  3. Apa fungsi politik dari narasi peracunan dalam historiografi Islam?

Dalam sumber-sumber sejarah yang sezaman (seperti Ibnu Al-Atsir, Al-Maqrizi, Abu Syamah, Adz-Dzahabi, dan Ibnu Katsir), tidak ada riwayat yang terverifikasi mengenai peracunan Khalifah Al-Adhid oleh Salahuddin. Kematiannya bersifat wajar akibat penyakit parah, dan sebagian besar sejarawan mendeskripsikannya demikian. Namun, peristiwa itu sendiri sangat dramatis, dan sering diceritakan dalam buku-buku sejarah sebagai kisah transisi kekuasaan dari Daulah Fatimiyah yang beraliran Syiah ke pemerintahan Ayyubiyah yang beraliran Sunni di Mesir pada tahun 567 H / 1171 M. Saya akan menceritakannya kepada Anda secara singkat dan dengan akurasi sejarah, berdasarkan sumber-sumber utama:

Latar Belakang: Bagaimana Salahuddin Menjadi Wazir bagi Al-Adid?

Al-Adid li-Din Allah (Abdullah bin Yusuf) adalah khalifah terakhir dari Daulah Fatimiyah, dan usianya belum genap 21 tahun saat ia wafat. Ia mengambil alih kekhalifahan saat masih kanak-kanak, dan negara dalam kondisi sangat lemah akibat konflik antar wazir (Syawar dan Dirgham) serta ancaman Pasukan Salib. Al-Adid meminta bantuan Nuruddin Zengi (Sultan Syam) untuk menyelamatkan Mesir dari kaum Franka (Pasukan Salib). Nuruddin kemudian mengutus paman Salahuddin (Asaduddin Syirkuh) dan disusul oleh Salahuddin sendiri.

Setelah terbunuhnya Syawar dan wafatnya Syirkuh (karena tersedak/sesak napas beberapa bulan kemudian), Al-Adid mengangkat Salahuddin sebagai wazir (perdana menteri) pada tahun 564 H / 1169 M. Saat itu Salahuddin berusia 32 tahun, dan ia dengan cepat menguasai tentara dan administrasi pemerintahan, sementara Al-Adid tetap berada di istananya sebagai simbol belaka. Kekuasaan de facto berada di tangan Salahuddin, yang berikrar setia kepada Nuruddin (yang berafiliasi pada Kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad).

Akhir Daulah Fatimiyah: Khutbah untuk Khilafah Abbasiyyah

Nuruddin menekan Salahuddin untuk mengakhiri Kekhalifahan Fatimiyah dan mengembalikan Mesir ke mazhab Sunni serta Kekhalifahan Abbasiyah. Awalnya Salahuddin ragu karena khawatir akan terjadinya pemberontakan kaum Syiah di Mesir. Namun, pada Jumat pertama bulan Muharram 567 H (10 September 1171 M), ia memerintahkan para khatib untuk menghapus nama Al-Adid dari khotbah dan menggantinya dengan menyebut nama Khalifah Abbasiyah, Al-Mustadhi bi-Amrillah. Saat itu Al-Adid sedang sakit parah di istananya, sehingga Salahuddin menyembunyikan kabar tersebut darinya agar ia bisa “meninggal dengan tenang” (sebagaimana disebutkan beberapa sejarawan).

Al-Maqrizi dan Ibnu Katsir mengatakan bahwa Salahuddin menghadiri pemakaman Al-Adid beberapa hari kemudian, ia menangis dan merasa sedih, lalu berkata: “Seandainya kami tahu ia akan meninggal pada hari ini, kami tidak akan menyakitinya dengan menghapus namanya dari khotbah.” Qadhi Al-Fadhil lalu menimpalinya dengan nada bercanda: “Seandainya dia tahu Anda akan menghapus namanya, dia tidak akan mati!”.1

Wafatnya Al-`Adhid: Penyakit, Bukan Peracunan

Al-`Adhid wafat pada hari Senin, 11 Muharram 567 H (13 September 1171 M) di Kairo, pada usia 21 tahun. Berbagai sumber (Adz-Dzahabi, Al-Maqrizi, Abu Syamah) sepakat bahwa ia meninggal karena penyakit parah (yang diyakini kuat ia tidak akan selamat darinya). Tidak satu pun dari mereka menyebutkan adanya peracunan atau pembunuhan langsung.

Catatan Kutipan dari Ibnu Katsir, Al-Maqrizi, dan Abu Syamah

Ketiganya mendeskripsikan kematian tersebut sebagai penyakit wajar (atau kesedihan dan duka yang berujung pada penyakit), tanpa menyebutkan adanya peracunan atau pembunuhan yang disengaja oleh Salahuddin. Sebaliknya, mereka menyebutkan bahwa Salahuddin menghadiri pemakaman, menangis, dan merasa sedih.

  1. Ibnu Katsir (wafat 774 H) – Al-Bidayah wa al-Nihayah

فيها كانت وفاة العاضد صاحب مصر. في أول جمعة منها، أمر صلاح الدين بإقامة الخطبة لبني العباس بمصر… ثم إن العاضد مرض فكانت وفاته في يوم عاشوراء، فحضر الملك صلاح الدين جنازته، وشهد عزاءه، وبكى عليه وتأسف، وظهر منه حزن. وقد كان مطيعًا له فيما يأمره به… وكان يتندم على إقامة الخطبة لبني العباس بمصر قبل وفاته، وهلا صبر بها إلى بعد مماته

“Pada tahun tersebut, wafatlah Al-‘Adhid. Salahuddin menghadiri pemakamannya, menyaksikan takziahnya, menangisinya, serta merasa sangat menyesal, dan tampak kesedihan darinya. Sebelumnya, ia (Al-Adid) taat padanya dalam apa yang diperintahkannya… Dan ia (Salahuddin) menyesali penegakan khotbah untuk Bani Abbas di Mesir sebelum wafatnya (Al-Adid), mengapa ia tidak bersabar hingga setelah kematiannya…“Adid, penguasa Mesir. Pada Jumat pertama bulan itu, Salahuddin memerintahkan penegakan khotbah untuk Bani Abbas di Mesir… Kemudian Al-Adid jatuh sakit dan wafat pada hari Asyura, maka Raja

  • Catatan: Menjelaskan kematian tersebut secara eksplisit sebagai “penyakit”, dan menonjolkan kesedihan serta penyesalan Salahuddin.

2. Al-Maqrizi (wafat 845 H) – Itti’az al-Hunafa’ bi Akhbar al-A’immah al-Fatimiyyin al-Khulafa’

    • Letak: Juz 3, peristiwa tahun 567 H (di bawah penyebutan wafatnya Al-Adid), sekitar halaman 148-153 (terbitan Dar al-Fikr al-Arabi atau Al-Syamila).
    • Teks Persis (Deskripsi Langsung Kematian):

    في يوم الاثنين لإحدى عشرة خلت من المحرم عشية يوم عاشوراء مات العاضد لدين الله وقامت عليه الواعبة وعظمت ضوضاء الأصوات النادبة حتى كأن القيامة قد قامت… ومات العاضد وعمره إحدى وعشرون سنة. وكان… كريماً سمحاً لطيفاً لين الجانب يغلب عليه الخير

    “Pada hari Senin, tanggal sebelas Muharram, di sore hari Asyura, Al-Adid li-Din Allah wafat. Tangisan dan ratapan untuknya membahana, suara orang-orang yang meratap begitu keras hingga seolah-olah kiamat telah tiba… Al-Adid wafat pada usia dua puluh satu tahun. Ia adalah… sosok yang dermawan, toleran, lembut, ramah, dan kebaikan lebih mendominasi dirinya…”

    • Info Tambahan: Dalam kitab Al-Suluk li Ma’rifat Duwal al-Muluk (Juz 1, peristiwa 567 H), Al-Maqrizi menyebutkan wafatnya Al-Adid tanpa isyarat apa pun tentang racun, dan melanjutkan dengan peristiwa yang terjadi pada keluarga Al-Adid setelah kematiannya (pemindahan mereka ke rumah khusus disertai pemberian tunjangan).
    • Catatan: Al-Maqrizi (seorang sejarawan Mesir ahlus sunnah yang relatif obyektif) mendeskripsikan kematian tersebut sepenuhnya wajar, dan memuji Al-Adid secara pribadi.

    3. Abu Syamah (wafat 665 H) – Ar-Rawdhatayn fi Akhbar ad-Dawlatayn al-Nuriyyah wa al-Salahiyyah

      • Letak: Juz 1 (atau bagian kedua dari Juz 1, tergantung cetakan), sekitar halaman 196-197, peristiwa tahun 567 H (terbitan Dar al-Fikr, Al-Syamila, atau tahkik Ibrahim Al-Zaybaq).
      • Teks Persis (Mengutip dari Ibnu Abi Tayyi’ dan Lainnya):
      Baca Juga:  Posisi Politik Dunia Islam Saat Ini (1940)

      «قيل إن العاضد لما اتصل به ما فعل [صلاح الدين] من قطع اسمه من الخطبة قال: لمن خطب؟ قيل له: لم يخطب لأحد مسمى. قال: في الجمعة الأخرى يخطبون لرجل مسمى. واتفق أنه مات قبل الجمعة الثانية. قيل إنه افتكر واستولى عليه الفكر والهم حتى مات. وقيل إنه لما سمع أنه قطعت خطبته اهتم، وقام ليدخل إلى داره فعثر وسقط، فأقام معتلاً خمسة أيام…»

      “Dikatakan bahwa ketika kabar sampai kepada Al-Adid mengenai apa yang dilakukan [Salahuddin] yaitu menghapus namanya dari khotbah, ia bertanya: ‘Untuk siapa khotbah dibacakan?’ Dijawab: ‘Tidak dibacakan untuk nama siapa pun secara spesifik.’ Ia berkata: ‘Pada Jumat berikutnya mereka akan berkhotbah untuk pria tertentu.’ Kebetulan ia meninggal sebelum Jum’at kedua. Dikatakan bahwa ia berpikir keras dan dikuasai oleh pikiran serta kesedihan hingga ia meninggal. Dikatakan pula bahwa ketika ia mendengar khotbah atas namanya dihentikan, ia merasa sedih, lalu ia bangkit untuk masuk ke rumahnya namun tersandung dan jatuh, sehingga ia terbaring sakit selama lima hari…”

      • Catatan: Abu Syamah (yang hidup relatif dekat dengan masa peristiwa tersebut) menyebutkan kesedihan dan pikiran sebagai penyebab penyakit yang berujung pada kematian, atau jatuhnya Al-Adid secara tak sengaja yang mengakibatkan ia sakit selama lima hari. Ia tidak pernah menyebutkan adanya peracunan.

      Catatan Kutipan dari Ibnu Al-Atsir (wafat 630 H) – Al-Kamil fi al-Tarikh

      • Letak: Al-Kamil fi al-Tarikh, tahun 567 H (“Kemudian masuklah tahun lima ratus enam puluh tujuh”), di bawah judul: “Penyebutan Penegakan Khotbah Abbasiyah di Mesir dan Runtuhnya Daulah Alawiyyah (Fatimiyah)”. (Cetakan tepercaya: Dar al-Kitab al-Arabi, atau Islam Web – Juz 9 atau 10 tergantung pembagian, sekitar hal. 365-366).
      • Teks Persis (Paragraf yang berkaitan langsung dengan wafatnya Al-Adid):

      وكان العاضد قد اشتد مرضه فلم يعلمه أحد من أهله وأصحابه بقطع الخطبة، وقالوا: إن عوفي فهو يعلم، وإن توفي فلا ينبغي أن نفجعه بمثل هذه الحادثة قبل موته، فتوفي يوم عاشوراء ولم يعلم بقطع الخطبة. ولما توفي جلس صلاح الدين للعزاء، واستولى على قصر الخلافة، وعلى جميع ما فيه… ولما اشتد مرض العاضد أرسل إلى صلاح الدين يستدعيه، فظن ذلك خديعة، فلم يمض إليه، فلما توفي علم صدقه، فندم على تخلفه عنه، وكان يصفه كثيراً بالكرم، ولين الجانب، وغلبة الخير على طبعه، وانقياده

      “Saat itu penyakit Al-Adid semakin parah, sehingga tak satu pun dari keluarga dan sahabatnya yang memberitahunya tentang penghentian khotbah (atas namanya). Mereka berkata: ‘Jika ia sembuh, ia akan mengetahuinya, dan jika ia wafat, tidak sepatutnya kita mengejutkannya dengan peristiwa semacam ini sebelum kematiannya.’ Maka, ia wafat pada hari Asyura tanpa mengetahui perihal penghentian khotbah tersebut.

      Ketika ia wafat, Salahuddin duduk untuk bertakziah (berbelasungkawa), lalu mengambil alih istana kekhalifahan beserta seluruh isinya…

      Tatkala penyakit Al-Adid semakin parah, ia mengutus seseorang kepada Salahuddin untuk memanggilnya. Namun, Salahuddin mengira itu adalah sebuah tipu daya (jebakan), sehingga ia tidak pergi menemuinya. Ketika Al-Adid wafat, Salahuddin menyadari kebenarannya (bahwa panggilan itu tulus), dan ia pun menyesal karena tidak memenuhi panggilannya. Ia sering memuji (Al-Adid) karena kedermawanannya, kelembutannya, kebaikan yang mendominasi karakternya, serta ketundukannya…”

      Catatan Penting pada Teks:

      • Penyebab Kematian: “Penyakitnya semakin parah” (sakit berat) – Ibnu Al-Athir sama sekali tidak menyebutkan adanya peracunan atau pembunuhan yang disengaja.
      • Menyembunyikan Kabar: Keluarga Al-Adid menyembunyikan kabar penghentian khotbah karena khawatir terhadapnya “agar tidak mengejutkannya (menambah beban pikirannya)” sebelum ia meninggal.
      • Sikap Salahuddin: Duduk untuk bertakziah (yakni mengadakan/menghadiri takziah dan pemakaman), menyesal tidak menjenguknya ketika Al-Adid memanggilnya (karena mengira itu tipuan), dan mendeskripsikannya sebagai sosok yang dermawan dan baik.
      • Hasil Akhir: Salahuddin mengambil alih istana dan harta karun, serta memindahkan keluarga Al-Adid ke tempat lain dengan penjagaan dan tunjangan yang layak.
      • Teks ini sangat selaras dengan apa yang telah saya kutip sebelumnya dari Ibnu Katsir (penyakit + tangisan dan penyesalan Salahuddin), dari Abu Syamah (kesedihan dan penyakit setelah penghentian khotbah), dan dari Al-Maqrizi (kematian wajar).
      • Tidak ada dalam kitab Ibnu Al-Atir (yang merupakan sumber tertua dan paling rinci dari keempat sumber tersebut) isyarat apa pun mengenai peracunan atau pembunuhan. Kematian tersebut adalah kematian medis yang wajar setelah mengalami penyakit parah.

      Riwayat yang menyebutkan atau mengisyaratkan adanya peracunan

      Catatan Kutipan dari Al-Dhahabi dan Ibn Abi Tayyi’ dengan Teks Persis dan Letaknya dalam Buku Mereka, Beserta Perbandingan Komprehensif dengan Sumber-Sumber Sebelumnya (Ibn al-Athir, Ibn Kathir, Abu Shama, dan Al-Maqrizi)

      1. Al-Dhahabi (Syamsuddin Muhammad bin Ahmad Al-Dhahabi, wafat 748 H)
      • Sumber Utama: Siyar A’lam al-Nubala’, Tingkatan ke-18, Biografi Al-Adid (Juz 15, hal. 213-214, terbitan Mu’assasah al-Risalah atau Al-Maktabah Al-Syamila).
      • Teks Persis (Paragraf lengkap terkait kematian):

      هلك العاضد يوم عاشوراء سنة سبع وستين وخمسمائة بذَرَب مُفْرِطٍ، وقيل: مات غمًّا لما سمع بقطع خطبته وإقامة الدعوة للمستضيء، وقيل: سقي، وقيل: مص خاتمًا له مسمومًا، وكانت الدعوة المذكورة أقيمت في أول جمعة من المحرم، وتسلم صلاح الدين القصر بما حوى من النفائس والأموال، وقبض أيضًا- على أولاد العاضد وآله، فسجنهم في بيت من القصر، وقمع غلمانهم وأنصارهم، وعفى آثارهم

      “Al-Adid binasa (wafat) pada hari Asyura tahun lima ratus enam puluh tujuh karena diare akut (dzarab mufrith), dan dikatakan: ia meninggal karena kesedihan/dukacita (ghamm) ketika mendengar khotbah atas namanya dihentikan dan doa diserukan untuk Al-Mustadhi’, dikatakan pula: ia diracun (suqiya), dan dikatakan: ia mengisap cincinnya yang beracun. Seruan doa (untuk Al-Mustadhi’) tersebut didirikan pada Jumat pertama bulan Muharram. Salahuddin mengambil alih istana beserta benda-benda berharga dan harta kekayaan di dalamnya, juga menangkap anak-anak dan keluarga Al-Adid, lalu memenjarakan mereka di salah satu ruangan istana, menekan para pelayan dan pendukung mereka, serta menghapus jejak mereka.”

      • Perbandingan:
        • Penyebab Utama: Penyakit parah (“diare akut” = penyakit lambung/usus parah) + kesedihan setelah khotbah dihentikan. Hal ini sangat selaras dengan Ibn al-Atsir (“penyakitnya memburuk”), Ibn Katsir (“sakit”), Abu Syamah (“ia berpikir keras hingga dikuasai pikiran dan kesedihan”), dan Al-Maqrizi (kematian wajar).
        • Desas-desus: Menyebutkan untuk pertama kalinya di antara sumber-sumber utama riwayat “diracun” dan “mengisap cincin beracun” dengan menggunakan bentuk kata “dikatakan (qila)” (yakni, rumor yang tidak terkonfirmasi). Al-Dzahabi tidak mendukungnya, melainkan menyajikannya sebagai kemungkinan sekunder.
        • Sikap Shalahuddin terhadap Al-‘Adhid: Ia memujinya secara terang-terangan (“Kekuasaan Al-Adid menyusut bersama Salahuddin hingga ia menggantikannya dan menghapus negara Fathimiyyah”) – hal ini berbeda dengan Ibn Abi Tayyi’ yang cenderung meragukan beberapa tindakan Salahuddin.
      Baca Juga:  Pawai Sejuta Umat untuk Syariat Islam di Sudan

      2. Ibn Abi Tayyi’ (Yahya bin Abi Tayyi’ al-Halabi, wafat sekitar 630 H)

        • Sumber: Bukunya “Kanz al-Muwahhidin fi Sirah Salah al-Din” (kini hilang), tetapi tersimpan melalui kutipan-kutipan langsung oleh Abu Shama dalam Al-Rawdhatayn (Juz 1, hal. 196-197 dan seterusnya, terbitan Dar al-Fikr), dan oleh penulis lainnya.
        • Teks Persis (Apa yang dikutip langsung oleh Abu Shama darinya dalam konteks kematian Al-Adid dan penghentian khotbah):

        “Ibn Abi Tayyi’ berkata: … Dan ketika Raja Salahuddin selesai… dari mengkonsolidasikan kerajaan dan menegakkan khotbah… ia meninjau isi kedua istana dan menemukan di dalamnya… [kemudian ia mendeskripsikan harta karun dan buku-buku secara rinci].”

        Adapun mengenai penyebab kematian itu sendiri, Abu Syamah meriwayatkan (mengutip dari Ibn Abi Tayyi’ dan lainnya):

        قيل إن العاضد لما اتصل به ما فعل [صلاح الدين] من قطع اسمه من الخطبة قال: لمن خطب؟ قيل له: لم يخطب لأحد مسمى. قال: في الجمعة الأخرى يخطبون لرجل مسمى. واتفق أنه مات قبل الجمعة الثانية. قيل إنه افتكر واستولى عليه الفكر والهم حتى مات

        “Dikatakan bahwa ketika kabar sampai kepada Al-Adid mengenai apa yang dilakukan [Salahuddin] yaitu menghapus namanya dari khotbah, ia bertanya: ‘Untuk siapa khotbah dibacakan?’ Dijawab: ‘Tidak dibacakan untuk nama siapa pun secara spesifik.’ Ia berkata: ‘Pada Jumat berikutnya mereka akan berkhotbah untuk pria tertentu.’ Dan kebetulan ia meninggal sebelum Jumat kedua.

        Dikatakan bahwa ia berpikir keras dan dikuasai oleh pikiran serta kesedihan hingga ia meninggal.

        • Perbandingan:
          • Sama sekali tidak menyebutkan peracunan. Penyebab: kesedihan dan pikiran (duka) yang berujung pada kematian – identik dengan Abu Shama, Ibn al-Athir, dan Ibn Kathir.
          • Ibn Abi Tayyi’ (cenderung Syiah, dan ayahnya diasingkan oleh Nuruddin) fokus pada mengkritik beberapa tindakan Salahuddin (seperti pembagian harta), tetapi ia mendeskripsikan perlakuan Salahuddin terhadap keluarga Al-Adid dengan penuh penghormatan di tempat lain (Abu Shama mengutip darinya bahwa Salahuddin mematuhi wasiat Al-Adid untuk memuliakan anak-anaknya).
          • Abu Shama mengkritik Ibn Abi Tayyi’ secara terang-terangan dalam Al-Rawdhatayn karena biasnya terhadap Nuruddin, tetapi ia mengutip darinya terkait kematian Al-Adid tanpa ada isyarat apa pun tentang racun.

        Kesimpulan Sejarah:

        • Konsensus di antara lima sumber pertama: Penyakit wajar (atau kesedihan yang berujung pada penyakit).
        • Hanya Al-Dzahabi yang menyebutkan desas-desus peracunan dengan bentuk kata “dikatakan” (tidak terkonfirmasi), dan itu adalah rumor belakangan yang menyebar di beberapa riwayat Syiah atau desas desus semata.
        • Tidak ada teks langsung dari siapa pun di antara mereka yang membuktikan adanya peracunan oleh Salahuddin.

        Mengapa Tuduhan “Peracunan” Terkadang Muncul?

        Dalam beberapa narasi Syiah belakangan atau tulisan kontemporer (seperti beberapa blog atau novel karya Youssef Ziedan yang kerap dikritik), Salahuddin dituduh melakukan “pengkhianatan” atau “kecurangan” karena mengambil alih kekuasaan setelah Al-Adid berbuat baik kepadanya. Namun, sejarawan Sunni (yang hidup pada masa itu atau berdekatan dengannya) melihatnya sebagai sebuah pencapaian: mengakhiri negara “Bathiniyyah” yang sesat bahkan telah sampai pada derajat kufur, s mengembalikan Mesir ke paham sunni serta memimpin jihad melawan Pasukan Salib. Tidak ada bukti sejarah langsung mengenai racun atau pembunuhan yang disengaja.

        Narasi tentang wafatnya العاضد لدين الله, khalifah terakhir Fāṭimiyah, sering dikaitkan dengan tuduhan bahwa ia diracun oleh Shalahuddin Al-Ayyubi. Tuduhan ini muncul dalam sebagian sumber sejarah, terutama melalui kutipan tidak langsung yang menggunakan redaksi seperti “qīla” (dikatakan), yang menunjukkan ketidakpastian. Karena itu, penting untuk menilai riwayat ini dengan pendekatan historiografi kritis, bukan sekadar menerima narasi yang beredar.

        Jika dibandingkan dengan sumber-sumber utama yang lebih kuat, mayoritas sejarawan klasik justru menyatakan bahwa al-‘Adhid wafat karena sakit yang telah lama dideritanya. Para ahli Sejarah seperti Ibnu Al-Atsir, Abu Syamah, Ibnu Katsir dan Al Maqrizi konsisten menyebutkan sakit adalah penyebab kematian al-‘Adhid tanpa menyinggung adanya peracunan. Konsistensi ini memperkuat bahwa riwayat wafat alami lebih dapat dipercaya secara metodologis.

        Fenomena munculnya tuduhan peracunan ini tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan konteks politik saat itu, yaitu berakhirnya kekhalifahan Fāṭimiyah dan naiknya kekuasaan Ayyubiyah. Dalam situasi transisi kekuasaan seperti ini, narasi dramatis seperti peracunan sering digunakan untuk menjelaskan perubahan besar secara sederhana sekaligus memberi kesan adanya konspirasi. Dengan demikian, riwayat tersebut dapat dipahami sebagai bagian dari konstruksi politik, bukan fakta yang pasti.

        Pola serupa juga terlihat dalam beberapa kasus lain dalam sejarah Islam, seperti wafatnya Hasan bin Ali Radhiyallahu ‘anhu dan Al-Makmun, yang juga dikaitkan dengan peracunan tanpa bukti yang benar-benar pasti. Sebaliknya, dalam kasus yang memang jelas terjadi pembunuhan, seperti Abu Muslim Al-Khurasani oleh Abu Ja’far Al-Manshur, sumber-sumber sejarah menyebutkannya secara tegas tanpa keraguan. Hal ini menunjukkan bahwa ketidakjelasan redaksi merupakan indikator penting dalam menilai kekuatan suatu riwayat.

        Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tuduhan peracunan terhadap al-‘Āḍid lebih mencerminkan dinamika politik dan polemik historiografis daripada fakta sejarah yang kuat. Riwayat yang menyatakan wafat karena sakit memiliki dasar yang lebih kokoh dan didukung oleh sumber-sumber utama. Kasus ini sekaligus memperlihatkan bahwa dalam membaca sejarah Islam, diperlukan sikap kritis untuk membedakan antara laporan faktual dan narasi yang terbentuk oleh kepentingan politik atau ideologis.

        13 April 2026
        Ustadz Anshari Taslim, Lc.
        Mudir Pesantren Bina Insan Kamil – DKI Jakarta


        1. Ar-Raudhatain fii Akhbar Ad-Daulatain, karya Abu Syamah Al-Maqdisi jilid 2 hal. 200 (Muassasah Ar-Risalah, 1997).
        Bagikan Artikel:

        ==========================================

        Yuks!, perbanyak amal jariyah dengan ikut berpartisipasi dalam upaya meningkatkan kualitas dakwah islamiyah bersama Pesantren Bina Insan Kamil, salurkan donasi terbaik Antum melalui rekening:

        Bank Syariah Indonesia
        7000 7555 00
        a/n Bina Insan Kamil Pramuka

        Kode Bank: 451

        Konfirmasi Transfer:
        https://wa.me/6282298441075 (Gita)

        Ikuti juga konten lainnya di sosial media Pesantren Bina Insan Kamil:
        Instagram: https://www.instagram.com/pesantrenbik
        Fanspage: https://www.facebook.com/pesantrenbik
        YouTube: https://www.youtube.com/c/PesantrenBIK

        Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

        “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

        Tinggalkan Balasan

        Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *