Apa Yang Sebenarnya Terjadi Di Perang Suriah

Apa Yang Sebenarnya Terjadi Di Perang Suriah?

To: Yang masih galau dan abu-abu dalam issue perang di Suriyah – terkhusus bagi yang merasa mendapat “peluru” (untuk menyerang Mujahiddîn Suriyah) dari kontroversi White Helmets (WH)

Pertama-tama, saya katakan: don’t stay stupid, read… read… read…! iqrô’… iqrô’… iqrô’…!

Kedua, tentang kontroversi WH. Maka itu sama sekali tidak akan mengurangi ataupun menambahi penderitaan rakyat Suriyah yang dizhôlimi oleh rezim Basyar al-Assad la‘anatullôh‘alaih.

Kalaupun benar WH itu hanyalah sebuah organisasi ciptaan Barat, terus kenapa? Bukankah itu sudah biasa dilakukan oleh Barat kalau berperang melawan musuh-musuhnya? Masih ingat dulu zamannya perang di Afghanistan, Mujahiddîn Afghan itu juga dibantu oleh Amrik, sampai diberi persenjataan rudal panggul jarak dekat anti pesawat udara yang sangat canggih bernama “Stinger” (FIM-92) tuh. Kenapa enggak pada ribut?

Jauh sebelum Suriyah, hampir 60 tahun lalu, Negara kita juga dapat mengembalikan Papua (dahulu Irian) karena memainkan dengan cantik kartu Amrik dengan kartu Soviet. Jadi jangan buta sejarah bahwa apapun yang terjadi di Dunia ini pasca Perang Dunia II, ia takkan terlepas dari perang pengaruh antara blok Amrik dengan blok Russia.

Adapun soal video ceramah Habib Muhammad RS tentang Suriyah yang dipost berkali-kali oleh para galawer Suriyah… maka dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada beliau sebagai pemimpin kaum Muslimîn, bisa dikatakan bahwa pendapat beliau itu ada biasnya. Sebab beliau hanya menyebut campur tangan negara-negara Barat di Suriyah, tetapi fakta keterlibatan langsung Iran (sejak dari awal), dan Russia (sejak 2015) sama sekali tidak diangkat.

Ketiga, soal Chemical Warfare (perang dengan menggunakan senjata kimiawi). Ada segelintir pendukung Basyar al-Assad la‘anatullôh‘alaih, khususnya Robert Parry, yang mengatakan baha serangan Senjata Kimia / Chemical Weapon (CW) di Suriyah pada Agustus 2013 itu dilakukan oleh satu faksi oposisi dengan tujuan untuk menekan agar Amrik melakukan intervensi militer ke Suriyah.

Maka tolong dicatat baik-baik ya…?!?

Menuduh pihak oposisi, itupun hanya salah satu faksi dari oposisi pula (bukan kerja sama antar faksi oposisi), adalah suatu kebodohan dan pembodohan yang sangat nyata!

Sebelum berbicara lebih jauh, mari belajar teori – ini teori umum ya, sama sekali bukan menuduh Mujahiddîn Suriyah sebagai terroris! – dan sebelum masuk kepada pembahasan data (yang dikeluarkan oleh organisasi yang bukan kaleng-kaleng), tentang apa itu CW dan bagaimana kelompok terroris memutuskan untuk menggunakan Chemical and Biological Weapons (CBW)?

CW itu adalah segala bahan kimia beracun yang dapat menyebabkan: kematian, luka, ketidakmampuan menggerakkan anggota tubuh, dan iritasi sensorik, yang disebarkan melalui proyektil artileri, bom, atau peluru kendali balistik. Bentuk utama CW tersebut adalah: nerve agents, blister agents, choking agents, dan blood agents.

Banyak faktor yang harus diperhitungkan kelompok non-negara (non-state actors) sebelum memutuskan untuk menggunakan CBW, antara lain:

⒜. Organisational Compatibility
Intinya, desentralisasi dalam organisasi akan menurunkan kemampuan memaksimalkan efek daya kerusakan CBW, karena penggunaan CBW itu memerlukan sentralisasi sumber daya. Sementara jelas organisasi terroris itu sangat terpisah-pisah, namanya saja “cell”.

Maka sekarang coba dibayangkan, ada sesefaksi oposisi di Suriyah yang katanya menggunakan CBW dengan tujuan menggosok-gosok supaya Amrik menurunkan kekuatan militernya masuk ke Suriyah… jelas muncul pertanyaan: CBWnya itu didapat dari mana? Iya, kemampuan membuat CBW itu bukan kaleng-kaleng, dan kita tahu bahwa pihak oposisi di Suriyah itu tadinya sama sekali tidak terorganisir dan secara sumber daya mereka minim. Jadi kemungkinan satu-satunya -kalau iya benar tuduhan tersebut- mendapatkan CBW itu adalah dari negara Eropa yang notabena anggota NATO. Sebab secara geografis adalah negara-negara Eropa yang paling dekat dengan Suriyah.

Baca Juga:  Lawrence of Arabia Menjadikan Saudiyy Antek Inggris Melawan Ottoman?

Maka masuk ke faktor penentu berikutnya…

⒝. Environmental Context
Intinya, penyimpanan material pembuat CBW (biasanya dual agents) sangat-sangat diatur dengan ketat di seluruh Eropa oleh aturan keselamatan lingkungan hidup, sehingga amat sangat sulit untuk mendapatkan, memproduksi, dan melakukan percobaan CBW tanpa diketahui.

Jadi, tidaklah segampang itu, Bambang! Sebab orang-orang di Eropa itu sangat yakin akan betapa suram dan menyeramkannya masa depan post-apocalyptic yang terjadi apabila CBW sampai berada di tangan non-state actors. Sebab, non-state actors itu diyakini tidak mempunyai sistem produksi yang baik, apalagi pengambilan keputusan dalam penggunaan CBW.

Dikarenakan susahnya mendapatkan CBW, menurut laporan the Europol Terrorism Situation & Trend Report (EU Te-Sat) pada tahun 2016, so-called terrorist itu lebih suka memakai senjata-senjata konvensional karena ia jauh mudah diperoleh, simple, dan efektif – coba deh, kelompok bersenjata mana yang tidak kenal dengan dua senjata yang legend itu? Makanya kita lebih mahfum bahwa image terroris itu adalah yang memanggul senapan AK-47 dan RPG-7.

Sebaliknya, non-state actors pun tahu bahwa usaha-usaha untuk memiliki CBW itu akan mengundang respon dahsyat dari negara-negara, terkhusus Amrik dan NATO, sehingga mulai dari usaha akuisisi material untuk memproduksinya, usaha pengembangan dan produksinya, apalagi sampai percobaannya, semua akan membuat organisasi mereka jadi mudah terdeteksi. Padahal mereka butuh sekali untuk tidak terdeteksi.

⒞. Chemical Weapons Convention (CWC)
Rezim Basyar al-Assad la‘anatullôh‘alaih itu sudah mengakui / mendeklarasikan diri memiliki CW pada pada bulan Juli 2012. Kemudian pada waktu menandatangani ikut CWC pada September 2013, rezim Basyar al-Assad la‘anatullôh‘alaih merencanakan akan segera memusnahkan CW yang dideklarasikannya. OPCW (Organisation for the Prohibition of Chemical Weapons) mengumumkan bahwa seluruh simpanan yang dideklarasikan oleh rezim Basyar al-Assad la‘anatullôh‘alaih sudah dihancurkan pada bulan Januari 2016.

Perhatikan: ini adalah seluruh simpanan yang di”declare”, bukan seluruh simpanan yang dimiliki.

Bingung? Tak usah bingung, sederhananya begini: pejabat itu harus lapor harta kekayaannya ke KPK, kan? Data itu dicatat dalam LHKPN (Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara). Namun itu adalah harta yang di-declare, bukan berarti itu adalah seluruh harta yang dimiliki oleh si pejabat itu.

Rezim Basyar al-Assad la‘anatullôh‘alaih mengatakan bahwa mereka telah selesai menghancurkan persediaan CW yang dideklarasikannya. Namun itu belum tentu seluruh CW yang dimiliki, sebab laporan-laporan terus masuk bahwa terus terjadi penggunaan CW di Suriyah pada wilayah-wilayah yang dikuasai oleh Oposisi. Ini menimbulkan tanda tanya besar akan keakuratan pelaporan / deklarasi CW yang dilakukan oleh rezim Basyar al-Assad la‘anatullôh‘alaih.

Temuan di lapangan oleh the United Nations Organization for Prohibition of Chemical Weapons (UN-OPCW) Joint Investigative Mechanism menyebutkan bahwa rezim Basyar al-Assad la‘anatullôh‘alaih bertanggung-jawab atas sejumlah serangan CW, termasuk serangan pada bulan April 2014, Maret 2015, Maret 2016, dan April 2017.

⒟. Tuduhan pihak Mujahiddîn melakukan “Chlorine Gas Attack” – perhatikan ya, “attack” bukan “attacks”

Sekali lagi, itu baru tuduhan ya, karena hanya berasal dari pernyataan 7 orang “saksi” yang mengatakan kepada UN Investigators bahwa pihak Mujahiddîn telah melakukan “Chlorine gas attack” – yang lucunya itu berusaha digunakan untuk mengindikasikan bahwa WH itu adalah scams.

Baca Juga:  Dibuka Kembali Program Tahsin Dan Tahfidz Pesantren BIK 2020

Baiklah, anggap saja “Chlorine gas attack” itu benar, maka mari kita bahas apa sih itu Chlorine?

Chlorine itu termasuk “choking agent”, yang mana di luar efek mematikannya, Chlorine tidaklah digolongkan ke dalam kelompok yang sama dengan gas-gas CW seperti Mustard, Tabun, Sarin, dan Soman. Tidak.

Kenapa…?

Karena Chlorine itu ada di dalam “zona abu-abu” pada hukum dan perundang-undangan internasional yang berlaku. Chlorine hanya dimasukkan ke dalam CW apabila ia digunakan untuk tujuan yang jahat, sebab Chlorine tersedia secara luas karena biasa digunakan untuk tujuan-tujuan yang baik dan bermanfaat seperti untuk membersihkan air minum. Sebaliknya, gas semacam Sarin sama sekali tidak.

Human Rights Watch (HRW) mendokumentasikan terjadinya 24 kali Chlorine attack di Suriyah sejak tahun 2014. Syrian American Medical Society (SAMS) malah mendokumentasikan terjadinya 109 kali Chlorine attack sejak perang Suriyah yang dimulai pada tahun 2011.

Pada bulan Februari 2017, HRW mengeluarkan laporan bahwa rezim Basyar al-Assad la‘anatullôh‘alaih setidaknya telah melakukan 8 kali Chlorine attack pada pertempuran di Aleppo antara tanggal 17 November s/d 13 Desember 2016 – itu setelah mereka melakukan verifikasi melalui analisis video footage, wawancara telepon, dan media sosial.

United Nations (UN) juga menguji 9 kasus serangan CW, dan dari 9 serangan tersebut ditemukan dengan bukti meyakinkan bahwa 3 serangan CW terjadi pada kurun waktu 2014 s/d 2015. Adapun 2 dari 3 serangan tersebut merupakan Chlorine attack terhadap warga sipil oleh pasukan rezim Basyar al-Assad la‘anatullôh‘alaih, dan 1 lagi adalah Sulphur Mustard attack yang dilakukan oleh ISIS (diulangi ya: ISIS!).

Pertanyaannya: lalu bukti kelompok Mujahiddîn itu melakukan CW attack manaaa, Bambang…???

Kalaupun Mujahiddîn melakukan satu kali Chlorine attack (baca: hanya 1x, itu pun perlu dibuktikan dengan sah terlebih dulu karena hanya berasal dari klaim perorangan saja), sementara fakta yang menyebutkan bahwa ada begitu banyak bukti bahwa mayoritas CW attack oleh terroris itu adalah kasus tunggal, skala kecil, sedangkan korban insidennya pun tidak pernah massal.

Contohnya adalah kelompok insurgent di Iraq yang pada akhir-akhir ini berusaha mengkombinasikan gas Chlorine dengan Improvised Explosive Devices (IED), namun itu pun hasilnya kecil sekali (kalau tidak mau dikatakan sangat mengecewakan).

Tuduhan bahwa Mujahiddîn melakukan serangan CW terhadap warga sipil itu adalah tuduhan yang keji, jahat, dan amat sangat nista. Hanya orang-orang bodoh dan lemah akalnya saja yang mau percaya.

Anda tidak percaya dengan narasi di atas?

Well, silakan anda googling sendiri infonya, semua within your reach kok. Itu bukan hanya dari sumber-sumber yang mendukung opini pribadi saja, tidak… itulah yang dinamakan dengan “reasonable doubt”.

Akhir kata, suatu rezim yang dengan begitu teganya membantai nyawa puluhan ribu rakyatnya sendiri, menggunakan WMD (Weapon of Mass Destruction) seperti CW, bahkan mengundang orang asing untuk berpartisipasi aktif membantai rakyatnya sendiri, maka rezim itu tak layak ada di muka Bumi ini – sekalipun ia dibela oleh ‘ulamâ’ siapapun juga…!

Waraslah, dan have a heart!

هدانا الله و إياكم أجمعين

Bagikan Artikel:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *