Masih Makan Atau Minum Sahur Saat Adzan Berkumandang

Masih Makan Atau Minum Sahur Saat Adzan Berkumandang

Saya yakin, tak sedikit di antara kita pernah mendengar hadits bahwasannya masih boleh menghabiskan makanan dan minuman di tangan kita saat sahur meski sudah terdengar adzan Subuh. Saya dan istri termasuk yang pernah berpandangan demikian karena mengikuti sebagian kajian para asaatidzah. Bahkan hingga beberapa waktu lalu, saya masih mengamalkan, ketika adzan Subuh sementara di mulut masih ada makanan, saya lanjutkan minum hingga selesai hajat saya. Dulu malah ada anak LIPIA yang sengaja sahur 1-2 menit sebelum adzan Subuh dengan sepiring gorengan dan segelas teh hangat.

Setelah belajar dan bertanya dengan para asaatidzah, barulah pandangan saya berubah sekarang. Ternyata apa yang saya lakukan itu, telah membatalkan puasa saya dan wajib saya qadha. Saya sebelumnya sempat membaca juga fatwa seorang doktor yang dishare di Facebook yang juga mengiyakan adanya keringanan makan-minum sahur saat adzan.

Saya sampaikan pandangan tersebut pada Ust. Ridlo حفظه الله تعالى kemudian ia memberi saya PDF sebuah risalah ringkas. Risalah: “As Sahur Ma’a Adzanil Fajri Ats Tsaniy Aw Ba’dihi” karya Asy Syaikh Dr. ‘Ammar bin Ahmad Ash Shayaashinah حفظه الله تعالى.

Berikut saya coba nukilkan kesimpulannya:

  1. Sepakat bahwa mengakhirkan sahur adalah Sunnah. Batas akhirnya adalah masuknya waktu shalat Subuh.
  2. Ada empat hadits tentang menyempurnakan sahur di kala sudah terdengar adzan Subuh. Namun semua haditsnya lemah, tak ada yang shahih satupun.
  3. Riwayat paling masyhur adalah hadits dari Abu Hurairah رضي الله تعالى عنه: “Jika salah satu di antara kalian mendengar panggilan adzan sementara bejana atau gelas masih berada di tangannya, janganlah diletakkan hingga ia menyelesaikan hajatnya.” Hadits ini memiliki ilal (cacat hadits) dikarenakan menyendirinya Hammad bin Salamah dan terjadi idhthirab (guncangan) di dalam riwayat tersebut. Ilal ini disampaikan oleh Imam Abu Hatim Ar Razi dan hukum yang dilandaskan dari hadits tersebut diingkari oleh An Nasa’i.
  4. Hadits Abu Hurairah di atas, tidak diamalkan oleh sebagian besar ulama. Mereka menganggap hadits ini syadz (nyeleneh/janggal), menyelisihi nash syar’i yang shahih dan tegas.
  5. Sabda Nabi ﷺ: “Maka makan dan minumlah hingga terdengar adzan Ibnu Ummi Maktum,” merupakan petunjuk dilarangnya makan dan minum ketika terdengar adzan. Hadits ini dijadikan pelarangan makan dan minum sejak terdengarnya adzan Ibnu Ummi Maktum رضي الله تعالى عنهما.
  6. Disebutkan ada 6 hadits berkaitan dengan keringanan untuk makan sahur setelah terbit fajar shadiq, namun semua hadits itu ma’lul (terdapat ilal) dan dalalah-nya masih muhtamal (ada kemungkinan-kemungkinan yang berbeda dengan yang sebagian kita yakini selama ini).
  7. Riwayat paling masyhur adalah dari Hudzaifah bin Al Yaman saat ditanya tentang waktu sahurnya bersama Nabi ﷺ, ia mengatakan: “Saat sudah siang namun matahari belum muncul/terbit.” Riwayat ini juga dilemahkan oleh para imam. Yang benar itu adalah riwayat sahurnya Zir bin Hubaisy bersama Hudzaifah.
  8. Diriwayatkan akan sahur setelah terbitnya fajar dari 5 shahabat (Abu Bakar, Ali, Hudzaifah, Sa’ad dan Ibnu Mas’ud). Namun riwayat ini tidak sharih (tegas), tak ada satupun yang shahih kecuali riwayat dari Hudzaifah رضي الله تعالى عنه.
  9. Pendapat bolehnya makan sahur hingga setelah terbit fajar di cakrawala, disebutkan berdasarkan dari riwayat Hudzaifah. Pendapat seperti ini dikemukakan oleh sebagian kecil dari kalangan tabi’in. Akan tetapi pendapat itu syadz (nyeleneh) dan ditinggalkan. Tak ada ulama yang berdalil dengannya baik di masa Salaf maupun Khalaf. Karena pendapat ini menyelisihi Sunnah Nabi ﷺ yang shahih akan terlarangnya makan dan minum saat terbit fajar shadiq.
  10. Masuknya fajar shadiq adalah waktu dimulainya berpuasa. Ia adalah benang putih yang terang benderang di ufuk. Pendapat yang memaksudkan dengannya hanya penyebaran cahaya di antara rumah ke rumah adalah pendapat lemah yang tidak dijadikan dalil oleh kebanyakan ulama.
  11. Penghalang makan sahur adalah dengan terbitnya fajar shadiq dan adzan yang mana dengannya, mu’adzdzin memberitahukan kepada orang-orang akan terbitnya fajar. Pemberitahuan ini sudah disepakati. Hal ini diperselisihkan apabila terjadi kesalahan dari mu’adzdzin (misal adzan terlalu cepat dari waktu yang seharusnya) atau karena keraguan (akan masuk atau belumnya fajar) juga selainnya.
  12. Penggunaan metode hisab falaki dalam menentukan masuknya waktu shalat ini diperbolehkan apabila tidak mendahului atau mengakhirkan kesaksian/penglihatan akan munculnya fajar secara yakin. Penentuan masuknya waktu fajar ini yang lebih tepat untuk dijadikan pertimbangan dan diamalkan.
  13. Jika penentuan waktu shalat fajar ini sudah dianggap tepat, maka wajib berpatokan dengan waktu tersebut. Bila penentuannya tidak tepat, wajib baginya untuk mengetahui cara menghitung atau menentukan (masuknya waktu shalat fajar) disertai dengan mengetahui tanda-tanda terbitnya. Atau ia mengikuti (taqlid) saja pada para ulama yang dipercaya kemampuan dan pengetahuan agamanya mumpuni. Maka wajib bagi mereka taqlid pada kalender waktu shalat (sepanjang masa) yang telah ditetapkan secara resmi oleh para ulama terpercaya dan hendaknya kaum Muslimin condong kepada ketetapan mereka tersebut.
  14. Nasihat dari penulis agar senantiasa menggabungkan semua hadits dan atsar sehingga mendapatkan pemahaman yang jelas akan hakikat fajar shadiq dan mempelajarinya dengan seksama.

Tambahan Faidah yang saya ambil dari kitab yang sama:

  1. Hadits Abu Hurairah tentang makan sahur bersamaan dengan adzan Subuh, dishahihkan oleh sebagian ulama seperti Imam Al Hakim dalam Al Mustadrak, Ibnu Taimiyah dalam Syarhul ‘Umdah, Ahmad Syakir dalam Ta’liq beliau terhadap kitab Al Muhalla dan Syaikh Al Albani dalam Shahih Abi Daud.
  2. Ulama klasik yang berpendapat adanya keringanan makan-minum sahur adalah Ibnu Hazm berdasarkan nukilannya dari Urwah bin Zubair,

كان أبي يفتي بهذا

“Ayahku berfatwa dengan hadits ini.” (Al Muhalla: 4/370)

  1. Dan di antara ulama kontemporer yang berpandangan demikian adalah Syaikh Nashiruddin Al Albani رحمه الله تعالى. Beliau menganggap hadits ini sebagai istitsna (pengecualian) dari surat Al Baqarah ayat 187.
  2. Hal ini bertentangan dengan pandangan jumhur. Umumnya ulama mengatakan bahwa,

إذا طلع الفجر وفي فمه طعامٌ فإ نه يلفظه ولا يبتلعه

“Jika fajar telah terbit dan di mulut masih ada makanan, maka buanglah dan jangan ditelan.”

Imam An Nawawi menyebutkan,

من طلع الفجر وفي فيه طعام فليلفظه ويتم صومه فإن ابتلعه بع د علمه بالفجر بطل صومه وهذا لا خلاف فيه

“Siapa yang saat terbit fajar di mulutnya masih ada makanan, maka buanglah dan sempurnakan puasanya. Maka apabila ia menelannya setelah ia tahu telah tiba waktu fajar, maka batal puasanya. Tak ada perselisihan pendapat tentang hal ini.” (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab: 6/311)

الله أعلم

Catatan Pribadi:

Pendapat akan bolehnya makan dan minum ini porosnya tidak jauh-jauh dari faham Ibnu Hazm Azh Zhahiriy dan madzhab Tarjih-nya Syaikh Al Albani رحمهما الله تعالى.

Maka tak heran beberapa ustadz berpendapat demikian karena memang banyak condong kepada madzhab Zhahiriy dan Tarjih (ala Syaikh Al Albani). Beberapa di antaranya adalah Ust. Khalid Basalamah, Ust. Subhan Bawazier dan lainnya (saya sudah lupa siapa saja yang pernah berpandangan demikian) حفظهم الله تعالى. Saya juga belum mendengar pendapat dari Ust. Yazid dan Ust. Abdul Hakim حفظهما الله تعالى yang mana mereka juga terkenal cukup “taqlid” pada pandangan Syaikh Al Albani. Mudah-mudahan mereka termasuk yang menolak pendapat tersebut, sebagaimana pemahaman kebanyakan asaatidzah Salafi saat ini.

Ironisnya, saya pribadi sudah menelan mentah-mentah pandangan seperti ini dari mereka sudah sejak lama saat zaman masih kuliah. Semoga banyak yang juga tersadarkan dari pemahaman kurang tepat ini karena konsekuensinya batal puasa.

Berikut adalah redaksi asli kesimpulan dari risalah Syaikh ‘Ammar bin Ahmad di atas:

١ – ثبت في السنة النبوية الصحيحة: استحباب تأخير السُّحور، والتبكير بصلاة الفجر
٢ – ورد في الترخيص للصائم بإكمال السحور مع أذان الفجر الثاني أربعة أحاديث مرفوعة،
وكلها ضعيفة لا يصح منها شيء.
٣ – أشهر هذه الأحاديث حديث أبي هريرة مرفوعًا:) إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمُ النِّدَاءَ وَا إ لإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ:
فَلَا يَضَ إ عهُ حَتَّى يَ إ قضِيَ حَاجَتَهُ مِنإهُ (، وهو معلٌّ بتفرد حماد بن سلمة واضطرابه فيه، وقد أع ل
الحديثَ أبو حاتم الرازي، وحكم بنكارته النسائي.
٤ – حديث أبي هريرة في الترخيص للصائم بإكمال سحوره مع أذان الفجر الثاني لم يأخذ به
عامة العلماء، ورأوه شاذًّا مخالفًا للنصوص الشرعية الصحيحة الصريحة.
وفي قول النبي صلى الله عليه وسلم:) فَكُلُوا وَا إ شرَبُوا حَتَّى تَ إ سمَعُوا تَ إ أذِينَ ا إ بنِ أُمِّ مَ إ كتُومٍ (دلالةٌ
على أ ن الإنسان يمتنع عن الأكل والشرب عند سماع الأذان، حيث جعل غاية الانتهاء من السحور
البدء بأذان ابن أم مكتوم.
٥ – ورد في الترخيص بالسحور بعد طلوع الفجر الصادق إلى الإسفار ستة أحاديث مرفوعة،
وكلها معلولة، وأغلبها محتملة في دلالتها.
٦ – أشهر أحاديث السحور بعد الفجر وأصرحها هو حديث حذيفة بن اليمان ل ما سُئل عن
وقت سحوره مع النبي صلى الله عليه وسلم فقال:) هو النهار إلا أنَّ الشمس لم تطلع (، وقد أعله
الأئمة بالوقف، وأن المحفوظ من رواية الثقات هو سحور زِرِّ بن حُبيش مع حذيفة.
٧ – روي السحور بعد طلوع الفجر عن خمسةٍ من الصحابة، وهم: )أبو بكر، وعلي، وحذيفة،
وسعد، وابن مسعود (، وأغلب الروايات عنهم ليست صريحة، ولا يصح منها إلا ما جاء عن حذيفة
رضي الله عنه.
٨ – القول بجواز تأخير السحور إلى ما بعد طلوع الفجر إلى الإسفار ورد عن حذيفة رضي الله
عنه، وقال به طائفة من التابعين، وهو قولٌ شاذٌّ مهجورٌ، لم يأخذ به عامة العلماء من السلف
والخلف، ومخالف للسنة النبوية الصحيحة في تحريم الطعام والشراب بطلوع الفجر الصادق.
٩ – الفجر الصادق الذي يبدأ به وقت الصيام هو أوَّل البياض الذي يظهر معترضًا بالأفق،
والقول بأن المراد به انتشار النور بين البيوت والطرقات قولٌ ضعيفٌ لم يأخذ به عامة أهل العلم.
١٠ – مناط المنع من السحور: طلوع الفجر الصادق، والأذان إنما هو إعلام من المؤذن للناس
بطلوع الفجر، وهذا الإعلام قد يكون موافقًا للواقع، أو مخالفًا له، إما لخطأ من المؤذن أو وهمٍ
أو غير ذلك.
١١ – استعمال الحساب الفلكي في أوقات الصلاة لا حرج فيه إذا كان موافقًا للمشاهدة لا
يتق دم عليها ولا يتأخر عنها، وهذه التقاويم فيما يخص وقت الفجر، منها ما هو دقيق، ومنها ما هو
محلُّ نظرٍ وتأملٍ.
١٢ – إذا كان التقويم دقيقًا في أذان الفجر: فيجب التقيد والالتزام به، وإذا لم يكن دقيقًا: فمن
كان في بيئة تتيح له معرفة طلوع الفجر ولديه العلم بعلاماته، فيلتزم بذلك، وإلا قلد من يثق بدينه وعلمه وأمانته، وأولى ذلك بالتقليد: التقاويم التي اعتمدها علماء ثقات أثبات وجرى عليها عمل
المسلمين.
ومما يوصي به الباحث: أهمية جمع الأحاديث والآثار الواردة في بيان حقيقة “الفجر الصادق”
ودراستها دراسة نقدية.
والله أعلم

Muhammad Valdy Nur Fattah
Santri kelas khusus Al-Minhaj Pesantren Binan Insan Kamil Jakarta


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.