Saudi Dan Ikhwan Sejenak Bersama Sang Mufti Syeihk Hasanain Makhluf

Saudi Dan Ikhwan, Sejenak Bersama Sang Mufti (Syeihk Hasanain Makhluf)

Oleh: Taufik M Yusuf Njong

Setelah meninggalnya Hasan Al-Banna, Al-Qadhi Al-Ustad Hasan Al-Hudhaiby kemudian dipilih menjadi Mursyid ‘Am. Tahun 1951 ia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Qadhi untuk fokus memimpin jama’ah. Juli 1952, para perwira militer (dan Ikhwan dibelakangnya) melakukan revolusi juli menggulingkan kekuasaan Raja Faruq. Setelahnya Rais Muhammad Naguib dipilih menjadi Perdana Menteri Mesir sebelum akhirnya tahun 1954 Gamal Abdul Nasir berbalik memenjarakan Muhammad Naguib dan memberangus Ikhwan.


Konflik Ikhwan dan Abdun Nasir menyebabkan ribuan anggota Ikhwan kembali menuju jerusi besi, tak terkecuali Hasan Al-Hudhaibi. Sebagian lain lari keluar negeri atau bersembunyi. Diantara mereka yang bersembunyi dari kejaran Abdun Nasir adalah Muhammad As-Shawabi Ad-Dieb, mahasiswa fakultas syari’ah Al-Azhar Syarif, sukarelawan mujahidin Ikhwan dalam perang Suez melawan Inggris dan perang Arab-Israel tahun 1948. Muhammad As-Shawabi juga memberikan pelatihan militer untuk mahasiswa Al-Azhar di Camp Univ Al-Azhar.

Muhammad As-Shawabi tetap dalam persembunyiannya sampai September 1954 hingga pada suatu hari jam tiga siang ia mengetuk pintu Al-‘Allamah Syeikh Hasanain Muhammad Makhluf (Mufti Ad-Diyar Al-Mishriyah) yang terletak di Jln. Naguib Pasya Kubri Qubba Cairo.

Ketika pembantu rumah membukakan pintu, ia kembali masuk dan memberitahukan kepada Syeikh bahwa ada seorang pemuda dengan jenggot tebal dan pakaian lusuh ingin bertemu dengan Syeikh. Syeikh Hasanain bercerita: Aku heran dengan pemuda tersebut. Dugaanku, ia adalah pengelana. Ia kemudian masuk rumah dan aku pada awalnya tidak menemuinya. Akan tetapi pembantu menyiapkan makanan dan aku melihatnya makan dengan lahap seakan-akan dia belum makan sejak lama. Selesai makan, kupikir ia akan pergi namun ia tetap bersikeras ingin menemuiku. Akupun menemuinya dan menduga ia akan meminta sedekah. Lusuh pakainnya menjelaskan seberapa lelahnya ia. Kemudian ia memperkenalkan dirinya bahwa ia adalah Muhammad As-Shawabi Ad-Dieb mahasiswa fakultas syari’ah Universitas Al-Azhar. Badanku kemudian bergetar dan berkeringat ketika dia berkata bahwa ia adalah sukarelawan mujahidin Ikhwanul muslimin dalam perang Palestina dan Perang Terusan Suez.

Tahun itu, Ikhwan sedang dalam puncak cobaannya. Hingga kalimat ‘Ikhwan’ identik dengan penangkapan, penjara, penyiksaan dan persidangan.

Pemuda itu menatapku dengan tenang. Lalu ia berkata dengan suara yang rendah tapi jelas: Saya sedang berada dalam musibah dan membutuhkan anda. Saya masuk dalam daftar orang yang dicari untuk ditangkap. Saya telah lebih sebulan bersembunyi di pekuburan-pekuburan disiang hari dan keluar malam hari mengais sisa-sisa makanan. Saya benci hidup ditengah-tengah orang mati dan sekarang ingin hidup bersama orang-orang hidup. Apakah anda akan menerimaku?

Aku sepenuhnya bingung dan baru ‘siuman’ setelah dia mendesakku: Bagaimana pendapat anda wahai Syeikh?

Aku kemudian meminta izin sebentar dan menemui anak-anakku; Dr. Ali dan putriku Zainab dalam kebingunganku. Anak-anakku kemudian melihat kebingunganku dan bertanya: Kenapa Ayah? Ada apa?

Aku memberitahukan mereka kisahnya. Lalu aku bergumam sendiri: pemuda ini benar, pemuda ini jujur, dia jujur.

Aku berkata pada anak-anakku: Aku yakin bahwa pemuda itu bukan polisi dan Intel yang datang untuk menguji kita. Aku yakin dia jujur dan apa yang dia ceritakan adalah benar.

Aku kemudian berkata: Sesungguhnya aku tidak mampu menolak permintaan seseorang dalam cobaan seperti ini. Aku yakin dia dizalimi. Aku telah memutuskan untuk menerimanya. Namun, yang aku takutkan adalah apa yang nanti akan dilakukan intelijen negara jika suatu hari mereka mampu menyingkap bahwa dia disini. Pada waktu itu, ada undang-undang yang menegaskan bahwa siapapun yang melindungi setiap anggota Ikhwan akan disanksi dengan hukuman penjara dan kerja paksa selama 15 tahun.

Lalu putraku Ali berkata setelah lama diam: Ayah, lakukanlah apa yang menurutmu sesuai dengan sisi keislaman. Insya Allah Allah akan menjadi penolong kita.

Akupun keluar keruang tamu bersama anakku Ali dan memperkenalkannya dengan Muhammad As-Shawabi. Kami katakan bahwa kami memutuskan untuk menerimanya dan hal itu adalah sebuah kemuliaan bagi kami. Aku melihat raut wajah teduh dan tenang dimukanya. Sampai saat ini, aku masih melihat cahaya senyuman itu.

Dr. Ali Hasanain dokter penyakit perempuan dan melahirkan kemudian menjelaskan bahwa Muhammad As-Shawabi harus menjadi pribadi lain dan menguburkan Muhammad As-Shawabi lama. Dikarenakan wilayah tempat tinggal mereka salah wilayah tempat tinggal banyak perwira polisi. Solusi satu-satunya adalah dengan ‘melahirkan’ individu baru yang 100% berbeda dengan As-Shawabi. Karena melarikan diri adalah usaha yang terbukti gagal dekat atau lambat.

Kemudian kami sepakat untuk menjadikannya sekretaris Mufti dan kebetulan waktu itu Syeikh Hasanain membutuhkan seorang sekretaris dikarenakan banyaknya pertanyaan yang datang meminta fatwa disamping kesibukannya menulis kitab. Kemudian kami mencari nama yang cocok untuknya. Syeikh Hasanain berkata: Engkau jujur dalam setiap tingkah laku dan kata-katamu. Maka mulai hari ini namamu adalah Shodiq (jujur) Afandi. Kamipun tertawa bersama.

Besoknya, Muhammad As-Shawabi tampil necis dengan jenggot tercukur, kulitnya yang putih bersih, mata lebar, tinggi sedang dan kurus.

Syeikh Hasanain Makhluf berkata: Taktik penyamaran untuk menyembunyikan Muhammad As-Shawabi sukses sempurna. Kami memberitahukan kepada penghuni rumah bahwa ada sekretaris baru telah datang. Namanya Shadiq Afandi. Tak ada yang mengetahui rahasia itu kecuali 4 orang. Aku(Syeikh Hasanain), Ali, Zainab dan istri putraku Su’ad Al-Hudhaibi (Puteri Hasan Al-Hudhaiby Mursyid kedua Ikhwan) yang tanpa ragu-ragu menerima As-Shawabi betapapun Ayah dan saudara-saudaranya semuanya dalam penjara.

Syeikh Hasanain Makhluf melanjutkan: Muhammad As-Shawabi atau Shadiq Afandi kemudian benar-benar menjadi sekretaris yang luar biasa. Dia banyak membantu pekerjaanku terutama dalam mentahqiq kitab-kitab turats. Dia membersamaiku kemanapun aku pergi. Aku sudah menganggapnya sekretaris pribadiku.

Selama 8 bulan, Shadiq Afandi hidup bersama keluarga Syeikh Hasanain Makhluf seperti halnya salah satu anggota keluarganya. Ia makan dan hidup bersama mereka. Dimana Syeikh Hasanain sebagai Mufti Mesir waktu itu sering meminta bantuan Shadiq Afandi untuk menjawab fatwa-fatwa yang dilayangkan padanya. Shadiq Afandi tinggal di sebuah bangunan terpisah di taman dimana terdapat salon, perpustakaan besar, kamar tidur dan kamar mandi khusus yang memang sengaja disediakan untuknya.

Syeikh Hasanain Makhluf bercerita: Pada suatu hari ditahun 1955 seingatku. Shadiq Afandi mendatangiku dan menyatakan keinginannya untuk safar ke Arab Saudi dan bekerja disana. Aku berusaha mencegahnya. Akan tetapi ia tetap ngotot dan memberitaku bahwa ia punya kenalan yang telah menyiapkan perjalanan laut dari Suez ke Jeddah.

Hatiku menjadi tak tenang, aku meminta anakku Dr. Ali untuk mencegahnya agar tidak pergi namun tanpa hasil. Muhammad As-Shawabi mengatakan bahwa ia ingin menjadikan Saudi sebagai tempat pengasingannya dan terbebas dari kecemasan sebagai seorang pelarian yang dicari polisi. Kamipun terpaksa mengucapkan selamat tinggal kepadanya setelah ia berjanji akan mengirimkan telegram begitu ia sampai di Saudi. Akupun mengirimkan telegram kepada Muhammad Surur As-Shabban penasehat Raja Sa’ud bin Abdul Aziz untuk menyediakan baginya pekerjaan begitu ia sampai Saudi. Lebih dari sebulan berlalu dan tak satu telegrampun sampai darinya kepadaku.

Semua anggota keluarga gelisah. Sebagai orang yang paling tenang, akupun berusaha untuk menenangkan mereka namun nihil. Ketenangankupun sirna ketika istri anakku Dr. Su’ad Al-Hudhaibi menceritakan bahwa ia mendengar dari radio London berita tertangkapnya dua orang buronan Ikhwan dalam kapal Suez yang menuju Jeddah. Radio itu tidak menyebutkan nama keduanya. Akan tetapi kami merasa bahwa Muhammad As-Shawabi adalah salah satunya.

**

Wahbi Al-Fisyawi yang bekerja di percetakan Mesir menceritakan: Muhammad As-Shawabi dipenjara bersama kami dalam penjara no 4 penjara perang/militer. Kami mengetahui bahwa ia ditangkap dengan perantaraan seorang Iraq yang menjadi Zabaniah tukang siksa penjara militer. Para sipir penjara menyiksanya dengan sadis dan meletakkannya dalam penjara yang dikhususkan untuk menyiksa dengan siksaan-siksaan paling sadis dan kejam. Mereka tidak memberikannya kesempatan untuk memejamkan matanya.

**

Dr. Su’ad Al-Hudhaibi, Puteri Mursyid Am Ikhwan Al-Ustad Hasan Al-Hudhaibi menceritakan: suatu hari, aku pergi ke penjara untuk menyerahkan beberapa kebutuhan kepada ayahku. Saat sedang keluar dari kantor kepala penjara Hamzah Al-Basyuni aku melihat Muhammad As-Shawabi sedang diphoto untuk pembuatan kartu tahanan. Aku hampir menjerit dan kemudian bergegas pulang dan menyampaikan kepada suamiku apa yang kulihat. Suamiku terperanjat dan bergegas menyiapkan kopernya untuk persiapan menuju penjara. Kami yakin kapan saja polisi dan Intel akan menjemput dan menangkap kami.

**

Dr. Ali Hasanain berkata: Aku takut terhadap ayahku mengingat umurnya telah lebih dari 60 tahun. Dia pasti tak akan sanggup menahan penyiksaan penjara militer. Karenanya, aku dan istriku selalu membersamainya siang malam menunggu kapan polisi akan menggerebek rumah kami.

**

Dr. Su’ad Al-Hudhaibi berkata: Kami semua heran karena setelah beberapa hari berlalu tak ada polisi yang menggerebek rumah sebagaimana dugaan kami. Pada suatu hari, aku mengunjungi penjara militer untuk menziarahi ayahku. Aku tanyakan padanya keadaan Muhammad As-Shawabi karena dia pasti mengenalnya sebagai anggota Ikhwan. Terlebih asal kami berdekatan di Qalyubia. Ayahku menggelengkan kepalanya yang menunjukkan putusnya harapan. Dia memberitahuku bahwa As-Shawabi telah syahid. Ia (Hasan Al-Hudhaiby) melanjutkan: Aku heran dengan para sipir penjara yang hanya menanyakan kepadanya dengan satu pertanyaan “inta kunta fein?” Dimana kau selama ini?. As-Shawabi hanya menjawabnya dengan membaca ayat-ayat Al-Qur’an Al-karim. Hingga mereka mematahkan tulang belakangnya dan tulang rusuknya terlihat. Para perawat penjara keluar dari ruang penyiksaannya sementara nampan ditangan mereka penuh dengan darah.

**

Syeikh Hasanain berkata: Aku samasekali tak pernah menyangka bahwa As-Syahid Muhammad As-Shawabi akan mampu menahan penyiksaan yang tak terbayangkan itu demiku. Aku tak menduga bahwa ia mampu mengorbankan hidupnya demiku. Sungguh ini adalah tarbiyah Islam yang benar.

**

Wahbi Al-Fisyawi berkata: Sebagian Ikhwah di penjara yang bertugas membagikan makan kepada kami mengabarkan bahwa luka yang diderita Muhammad As-Shawabi terlalu parah. Kondisinya amat buruk hingga serangga (ulat) terlihat berjalan-jalan diantara lukanya. Ia menolak makan karena air minum tidak diberikan kepadanya. Selang beberapa waktu, semua lampu penjara dimatikan dan dari celah jeruji besi aku mengintip para sipir penjara memikul bungkusan selimut dan memasukkannya dalam sebuah mobil Jeep. Aku merasa bahwa itu adalah Muhammad As-Shawabi dan aku berkata dalam diriku: istirahatlah dengan tenang menuju surga insya Allah.

**

Syeikh Hasanain Muhammad Makhluf, sisa para salafus sholih mengakhiri ceritanya:

إذا كانت تربية الشهيد من تربية الاخوان المسلمين فأنا أضم صوتي بقوة الى علماء الأزهر في المطالبة بعودة الاخوان المسلمين، فتربيتهم خير تربية.

“Jika tarbiyah As-Syahid adalah tarbiyah Ikhwanul Muslimin, maka aku ikut menyuarakan bersama para ulama Al-Azhar kembalinya Ikhwanul Muslimin. Karena tarbiyah mereka adalah sebaik-baik tarbiyah(1).

Footnote:

  1. Min A’lam Ad-Dakwah Wa Al-Harakah Al-Islamiyah Al-Mu’ashirah, Al-Mustasyar Abdullah Aqeel Sulaiman Al-Aqeel, Hal: 566-573. Cet ke 3, Dar At-Tauzi’ wa An-Nasyr tahun 2005.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.