Bagaimana USA Mati-matian Mempertahankan Status USD

Bagaimana USA Mati-matian Mempertahankan Status USD

Salah satu yang membuat sebuah negara itu jadi imperium selain dari kekuatan militer adalah mata uangnya. Mata uang inilah yang memperkuat posisi geopolitik sebuah negara.

Maka ketika Real dari Kerajaan Spanyol (ESP) kehilangan nilainya. Lalu ketika Pound dari Kerajaan Inggris (GBR) kehilangan nilainya. Status imperium keduanya pun runtuh, not necessarily negaranya hancur, akan tetapi menjadi irrelevant.

Pemimpin USA tahu betul akan hal ini dan mereka mati-matian menjaga supaya USD tetap menjadi “world reserve currency”, yang mana ini tampak pada pola yang konsisten selama 25 tahun terakhir pada negara-negara yang mencoba meninggalkan USD dalam perdagangan minyak.

Mari kita bahas…

🔴 Iraq (IRQ) — 2000-2003

Pada tahun 2000 pemimpin IRQ, Saddam Hussein, mengumumkan bahwa IRQ takkan lagi menerima USD untuk minyak di bawah program “Oil for Food”nya PBB, dan beralih sepenuhnya ke mata uang Euro (EUR). Maka seluruh sistem transaksi minyak mereka dijalankan dengan EUR, bukan lagi USD. Lalu pada tahun 2002, IRQ telah mengonversi cadangan devisanya sebesar USD 10milyar ke dalam EUR…

Maka USA pun menginvasi IRQ pada Maret 2003 dengan pretext adanya “WMD” (Weapon of Mass Destruction” yang dibangun dan disembunyikan oleh Iraq, dan dalam hitungan bulan setelah invasi maka penjualan minyak IRQ langsung dikembalikan ke dalam USD.

Namun belakangan tersebar memo Departemen Luar Negeri USA yang menunjukkan ada kekhawatiran di kalangan petinggi bahwa langkah IRQ tersebut di atas adalah ancaman nyata terhadap hegemoni USD akibat penjualan minyak dalam denominasi EUR.

Pun sampai pasukan USA keluar dari IRQ: TIDAK pernah ada WMD yang ditemukan.

🔴 Libya (LBY) — 2009-2011

Pada tahun 2009 pemimpin LBY, Muammar Gaddafi, mempunyai visi mengembalikan mata yang “Dinar Emas”. Gaddafi lalu mengusulkan kepada Uni Afrika untuk pembuatan “Dinar Emas” untuk kemudian dipakai pada perdagangan minyak Afrika. Tujuannya adalah menghilangkan ketergantungan pada USD dan EUR secara total.

Ide ini mendapatkan momentum dengan pernyataan minat dari negara-negara besar seperti Aljazair (DZA), Nigeria (NGA), dan Mesir (EGY). Pada awal 2011, Gaddafi mendesak Uni Afrika untuk mengadopsinya secara formal.

Maka dengan menunggangi “Arab Spring” pada yang terjadi awal 2011, di mana protes massa terhadap rezim Muammar Gaddafi berkembang menjadi perang saudara yang penuh kekerasan. Dengan alasan “keselamatan penduduk Libya”, maka USA, Prancis (FRA), dan Inggris (GBR) melakukan serangan udara dan rudal jelajah. Lucunya meskipun mandat PBB berfokus pada perlindungan kemanusiaan, namun serangan udara NATO malahan secara strategis menghancurkan kemampuan militer loyalis Gaddafi, yang mana itu secara langsung memberikan keunggulan bagi pasukan pemberontak “National Transitional Council” (NTC). Dengan dukungan serangan udara NATO yang terus-menerus terhadap pusat-pusat komando dan logistik pasukan pemerintah, pasukan pemberontak NTC akhirnya berhasil merebut ibu kota Tripoli pada Agustus 2011. Intervensi ini berakhir secara resmi pada 31 Oktober 2011, tak lama setelah kematian Gaddafi di Sirte, yang menandai berakhirnya kekuasaan rezim tersebut selama 42 tahun.

Setelah Gaddafi terbunuh, cadangan emas LBY sebanyak 143 Ton dilaporkan menghilang (, dan proyek Dinar Emas pun mati bersamanya, dan LBY pun kembali menjual minyak menggunakan USD.

Siapa yang jadi maling 143 Ton emas LBY itu?

Di tahun 2016, dalam bocoran email Hillary Clinton (melalui FOIA), ada memo intelijen dari Sidney Blumenthal yang dikirimkan kepada Hillary Clinton (saat itu Menteri Luar Negeri USA), di mana disebutkan bahwa FRA sangat khawatir dengan rencana Gaddafi menciptakan Dinar Emas Afrika yang akan menggantikan mata uang CFA Franc di Afrika Barat. Clinton juga mengkhawatir likuiditas USD global apabila Dinar Emas Afrika itu benar-benar terwujud.

Baca Juga:  Belajar MBG dari India? Why Not But…

🔴 Iran (IRN) — 2007-sekarang

Pada tahun 2007 IRN mendirikan bursa minyak di pulau Kish. Keunikan bursa itu adalah ia menerima pembayaran dalam berbagai mata uang selain USD, seperti EUR, JPY, INR, dan RUR. IRN menjual minyak ke CHN dengan CNY, ke IND dengan INR, sehingga transaksi tersebut sama sekali tak menyentuh sistem perbankan Amerika Serikat.

Respons USA terhadap langkah ini bersifat langsung dan berkelanjutan di mana. Sejak 2008 terus sanksi terhadap IRN terus meningkat hingga puncaknya pada 2012, di mana IRN diputus dari jaringan SWIFT. Kampanye “maximum pressure” dimulai kembali pada 2018 setelah Terompah keluar dari “nuclear deal”.

🔴 Venezuela (VEN) — 2017-2026

Pemimpin VEN, Nicholas Maduro, pada tahun 2017 secara resmi mengumumkan pengalihan pembayaran minyak dari USD ke CNY dan bekerja sama dengan CHN untuk mengembangkan sistem “Petroyuan”. Bahkan Maduro mencoba meluncurkan mata uang kripto “Petro”.

USA langsung merespons dengan sanksi keuangan yang melumpuhkan, membekukan asset LN VEN. Kemudian pada 2019, merongrong kekuasaan Maduro, USA mengakui pemimpin oposisi sebagai presiden sementara.

Setelah sanksi bertahun-tahun dan upaya coup d’état yang gagal, maka pada awal Januari 2026 rezim Terompah mengambil langkah ekstrem dengan melakukan operasi militer menangkap Maduro. Alasan resminya adalah demi “keamanan energi USA”. Hal ini dianggap unik karena tidak ada lagi klaim senjata pemusnah massal atau ancaman nuklir – tujuannya murni adalah memaksa kontrak minyak kembali menggunakan USD, dan hasilnya pun instan karena hanya dalam sepekan setelah penangkapan tersebut, kontrak minyak VEN langsung beralih kembali ke denominasi USD, dan kesepakatan Petroyuan dengan CHN pun ditangguhkan.

Sebenarnya tindakan ugal-ugalan Terompah itu bukan tanpa konsekuensi, karena ia telah membentuk persepsi global bahwa USD bernilai bukan karena inovasi atau hukum, melainkan karena didukung oleh kekuatan militer yang akan menghancurkan siapapun yang mencoba keluar dari sistem tersebut.

Berbeda dengan IRQ atau LBY, kasus VEN dianggap unik karena “topengnya USA telah terbuka”. Tidak ada narasi rumit tentang senjata pemusnah massal lah, atau krisis kemanusiaan lah, yang digunakan sebagai alasan invasi. Pemerintah USA secara terbuka menyatakan bahwa tujuannya adalah “keamanan energi USA” dan membawa minyak VEN kembali ke sistem Barat. Ini adalah pengakuan terbuka bahwa kekuatan militer USA telah digunakan untuk memastikan dominasi mata uang, dan dunia pun melihat secara langsung bahwa jika sebuah negara coba-coba meninggalkan USD, maka ia akan menghadapi “regime change”.

Lalu mengapa IRN berbeda dengan VEN?

IRN tidak diinvasi secara militer seperti IRQ, LBY, dan VEN adalah karena IRN memiliki teknologi rudal yang nyata dan kuat, sehingga invasi dianggap terlalu berisiko dan mahal baik secara politik maupun militer. Kasus IRN mengirimkan pesan kepada dunia bahwa sebuah negara bisa keluar dari sistem USD hanya jika mereka memiliki kekuatan militer yang cukup besar untuk membuat biaya invasi menjadi tidak masuk akal bagi USA.

🔴 Paradoks Reserve Currency — Antara Kepercayaan vs Ketakutan

Inti dari permasalahan ini adalah sifat dasar reserve currency dunia di mana sebuah mata uang cadangan seharusnya berjalan berdasarkan kepercayaan (trust), likuiditas, dan stabilitas. Namun ketika USA menggunakan kekuatan militer untuk mempertahankan hegemoni USD, sistem tersebut berubah dari pasar bebas menjadi “penodongan”.

Padahal, semakin banyak kekuatan yang digunakan untuk menyelamatkan Petrodollar, maka semakin cepat pula negara-negara akan mencari jalan keluarnya. Walau ketakutan mungkin menciptakan kepatuhan jangka pendek, akan tetapi ketakutan sama tak membangun kepercayaan jangka panjang. Terompah mungkin berhasil merampok minyak VEN secara operasional, akan tetapi secara strategis ia telah kehilangan kepercayaan global terhadap USD sebagai “safe haven”.

Baca Juga:  Kenapa Terompah Berkeras Merampok Minyak Venezuela?

Konsekuensi dari tindakan yang dianggap sebagai penodongan ini, maka dunia diprediksi akan mengambil langkah-langkah berikut:

Dedollarisasi Terselubung

Negara-negara takkan lagi mengumumkan rencana mereka secara publik agar tak bernasib seperti Saddam, Gaddafi, atau Maduro. Sebaliknya, mereka akan beralih secara diam-diam melalui sistem seperti mBridge (sistem pembayaran lintas batas oleh CHN, UEA, THA, dan HKG yang menggunakan Central Bank Digital Currencies) yang menggunakan teknologi ledger terdistribusi tanpa menggunakan USD dan menyentuh sistem SWIFT. Sistem mBridge ini membuat transaksi tak lagi memerlukan sistem koresponden bank di New York, yang selama ini menjadi titik kendali utama USA terhadap keuangan dunia.

Dilema Militer USA

Ketika negara-negara serentak mengalihkan sistem keluar dari USD dan SWIFT, maka USA tak mungkin menginvasi semua negara secara bersamaan. Biaya perang di Iraq (USD 3trilyun) dan Afghanistan (USD 2trilyun) sudah cukup memberikan peringatan bahwa tantangan USD tak mungkin dijawab dengan kekuatan.

Rusaknya Kepercayaan Sekutu

Sekutu USA baik di Eropa maupun di Asia mulai menyadari bahwa cadangan USD mereka tidaklah aman dan sewaktu-waktu bisa menjadi sandera politik. Bank Sentral mereka pun mulai melakukan diversifikasi dengan membeli emas batangan dan CNY dalam jumlah besar, meski itu semua dilakukan secara perlahan dan tanpa pengumuman besar. Ini diperparah lagi dengan kasus Greenland di mana USA mengenakan tariff untuk negara-negara EU yang menentang akuisisi Greenland oleh USA.

🔴 Apa Dampak Kehilangan Status Reserve Currency Bagi Rakyat USA?

Selama 50 tahun belakangan, sejak 1971 ketika Nixon mengumumkan bahwa USA tidak lagi bisa ditukar dengan emas, maka USA mampu mencetak USD tanpa mengalami inflasi hebat di dalam negerinya karena dunia secara otomatis menyerap USD baru tersebut sebagai cadangan. Istilahnya: “exporting inflation”.

Namun, ketika sistem Petrodollar berakhir, maka USD akan “pulang kampung” sebab negara-negara akan membelanjakan cadangan USD mereka tanpa menggantinya dengan yang baru. Ini akan menyebabkan inflasi domestik sehingga rakyat USA akan merasakan kenaikan harga barang impor secara drastis dikarenakan karena nilai tukar USD melemah (depresiasi di LN).

Sudah pasti apabila inflasi tinggi, maka standar hidup menurun. Ketika Pemerintah USA tak lagi bisa melakukan “defisit budget” secara bebas seperti yang selama ini mereka lakukan, maka rakyat USA harus menghadapi kenyataan ekonomi di mana mereka tidak bisa lagi mengonsumsi lebih banyak daripada yang mereka produksi.

Ketika sebuah imperium yang beralih dari memberikan nilai ekonomi menjadi menggunakan kekuatan militer untuk mempertahankan mata uangnya, sejarah menunjukkan itu selalu berakhir dengan kegagalan. Itu terjadi pada Kekaisaran Romawi. Kerajaan Spanyol, dan Kerajaan Inggris.

Terompah mungkin menganggap penangkapan Maduro sebagai bentuk keperkasaan USA, akan tetapi sejarah menunjukkan kalau itu adalah bukti keputusasaan sebuah sistem yang sudah tak bisa bertahan secara organik. Petrodollar itu hakikatnya adalah sebuah sistem yang sudah mati tapi menolak untuk berhenti bergerak.

Masa depan diprediksi akan menjadi dunia dengan mata uang multipolar, di mana emas kembali menjadi penyelesaian antar Bank Sentral sebagai pilihan yang netral dan bebas secara politik. Dunia sedang bergerak menuju tatanan ekonomi yang lebih jujur, namun menyakitkan bagi mereka yang terbiasa hidup dari subsidi inflasi global. Masa depan bukan lagi tentang siapa yang memiliki kapal induk terbanyak, melainkan siapa yang memiliki sistem nilai yang paling dipercaya dan aset yang paling nyata, yaitu: EMAS.

Demikian, semoga bermanfaat.

M. Arsyad Syahrial SE, MF
Pengamat Ekonomi dan Pergerakan Islam
Alumni RMIT University, Melbourne, Australia

Bagikan Artikel:

==========================================

Yuks!, perbanyak amal jariyah dengan ikut berpartisipasi dalam upaya meningkatkan kualitas dakwah islamiyah bersama Pesantren Bina Insan Kamil, salurkan donasi terbaik Antum melalui rekening:

Bank Syariah Indonesia
7000 7555 00
a/n Bina Insan Kamil Pramuka

Kode Bank: 451

Konfirmasi Transfer:
https://wa.me/6282298441075 (Gita)

Ikuti juga konten lainnya di sosial media Pesantren Bina Insan Kamil:
Instagram: https://www.instagram.com/pesantrenbik
Fanspage: https://www.facebook.com/pesantrenbik
YouTube: https://www.youtube.com/c/PesantrenBIK

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *