Menurut perkiraan saya, harga minyak dunia (dan juga energi tentunya) akan tetap tinggi pasca konflik Iran (IRN) – Amerika Serikat (USA), bahkan sekalipun si Terompah menghentikan kegilaannya detik ini juga. Gone are the days di mana harga minyak dunia (Brent / WTI) ada di level USD 60 s/d 70 /barrel.
❓ Kenapa…?
🔥 Pertama, kerusakan infrastruktur migas yang masif
Perang di Teluk Persia ini telah mengakibatkan kerusakan infrastruktur migas (fasilitas pengeboran, kilang, dan jalur pipa) yang sangat masif, terutama di Qoṭr (QAT), UEA (ARE), Bahrain (BAH), Kuwait (KWT), dan Iran (IRN). Mungkin yang bisa dikatakan ringan hanya kerusakan yang terjadi di Àrab Saȕdiyy (SAU).
Mengakhiri konflik adalah satu hal, namun memulihkan kapasitas produksi kembali ke level pra-konflik membutuhkan waktu bertahun-tahun dan investasi modal yang sangat besar. Pasar sangat sadar bahwa “minyak tambahan” dari tidak akan masuk ke pasar global dalam waktu dekat. Bahkan diperkirakan dengan tingkat kerusakan sekarang saja, pasokan minyak baru pulih setidaknya di pertengahan 2027.
🔥 Kedua, strategi produksi OPEC+
Negara-negara anggota OPEC+, terutama SAU dan Russia (RUS), memiliki kepentingan besar untuk menjaga harga minyak tetap di level yang mendukung anggaran nasional mereka. Jika ada potensi lonjakan pasokan dari IRN, maka kartel produsen minyak (OPEC+) kemungkinan besar akan merespons dengan membatasi produksi mereka sendiri untuk menjaga keseimbangan harga agar tidak jatuh – dalam ìlmu ekonomi ini dinamakan “floor price”.
🔥 Ketiga, premi risiko geopolitik yang menetap
Meskipun perang secara formal pasti akan berakhir sooner or later, stabilitas di kawasan Timur Tengah tetap rapuh. Investor dan spekulan pasar minyak cenderung tetap memasukkan “premi risiko” ke dalam harga. Selama ketegangan diplomatik masih ada atau ada ancaman sabotase pada jalur pelayaran seperti Selat Hormuz, harga minyak akan sulit turun secara drastis.
🔥 Keempat, kebijakan domestik USA
Meskipun si Terompah dikenal dengan slogan “Drill, Baby, Drill!”, produsen minyak shale oil di USA saat ini lebih fokus pada disiplin modal dan memberikan keuntungan kepada pemegang saham daripada sekadar mengejar volume produksi.
Kita tahu USA adalah produsen minyak terbesar di dunia saat ini, dan banyak yang berasal dari shale oil. Shale oil ini biaya produksinya mahal (antara USD 45 s/d 65 /barrel), sehingga mereka tentu maunya harga minyak dunia (Brent / WTI) ada di atas level tersebut.
Ditambah lagi akibat inflasi global juga membuat harga produksi per barrel menjadi lebih mahal dibandingkan biaya pada dekade lalu.
🔥 Kelima, logika “New Normal” harga energi
Dunia telah beradaptasi dengan harga energi yang lebih tinggi. Dengan adanya transisi energi yang sedang berlangsung di berbagai belahan dunia, investasi pada proyek minyak mentah baru secara global cenderung berkurang. Pasokan yang terbatas secara struktural ini membuat harga minyak memiliki titik keseimbangan baru yang lebih tinggi dibandingkan dengan masa lalu.
Investasi pada energi fosil kini dianggap “berisiko tinggi” oleh lembaga keuangan global (ESG). Jadi, meskipun harga tinggi, bank tidak semudah dulu lagi dalam memberikan pinjaman untuk proyek pengeboran baru. Ini adalah hambatan sistemik yang membuat harga sulit turun.
Intinya, sentimen politik (berakhirnya perang) itu biasanya kalah kuat dibanding fundamental ekonomi (kerusakan infrastruktur, biaya produksi, dan disiplin pasar). Janji politik untuk membawa kembali “minyak murah” akan berhadapan dengan realitas lapangan di mana pasokan global tetap ketat dan terkendali secara strategis oleh kartel produsen (OPEC+). Perkiraan saya, level harga minyak dunia akan berada di USD 80-90 /barrel.
Demikian, silakan kalau mau diskusi atau memberikan pendapat.
M. Arsyad Syahrial SE, MF
Pengamat Ekonomi dan Pergerakan Islam
Alumni RMIT University, Melbourne, Australia


