Kejujuran Membawa Nikmat

Kejujuran Membawa Nikmat

“Aku diberitakan dari Yusuf bin Khalil Al-Hafizh, dia berkata, Abul Qasim Abdullah bin abi Al-Fawaris, seorang syekh yang shalih menceritakan kepada kami, dia berkata, Aku mendengar Qadhi Abu Bakar Muhammad bin Abdul Baqi bin Muhammad Al-Bazzaz Al-Anshari bercerita,

“Aku pernah tinggal di Mekah-semoga Allah menjaganya-. Pada suatu hari, aku ditimpa kelaparan yang sangat. Aku tidak memiliki apapun untuk melawan rasa lapar. Aku menemukan sebuah kantong sutra yang terikat dengan tali dari kain sutra pula. Aku mengambilnya dan membawanya pulang ke rumah. Aku membukanya dan ternyata isinya adalah sebuah kalung mutiara yang belum pernah aku lihat sebelumnya.

Aku keluar, dan mendengar ada seseorang yang telah berusia lanjut mencari kalung itu. Ia membawa pundi berisi uang 500 dinar. Ia berkata, ”Ini adalah hadiah bagi siapa saja yang mengembalikan kantongku yang berisi kalung mutiara.” Aku membatin, ‘Aku sedang butuh dan lapar. Aku akan mengambil dinar tersebut dan memanfaatkannya. Aku akan mengembalikan kantong berisi mutiara ini kepadanya.’

Aku berkata kepadanya, ’Kemarilah bersamaku.’ Aku membawanya ke rumahku. Ia menyampaikan kepadaku ciri-ciri kantong itu, tali pengikatnya, dan mutiara yang berada di dalamnya. Maka, aku mengeluarkan kantong itu dan mengembalikan kepadanya. Ia menyerahkan 500 dinar kepadaku, tetapi aku tidak mau mengambilnya. Aku berkata, ‘Saya harus mengembalikannya kepada anda, dan tidak akan mengambil upah.”

Ia berkata kepadaku, ”Kamu harus menerimanya.” Ia terus mendesakku, tetapi aku tetap menolaknya. Akhirnya dia pergi meninggalkanku.

Selanjutnya, aku pergi meninggalkan kota Mekah menyeberangi lautan. Tiba-tiba perahu kami pecah, dan para penumpangnya tenggelam, harta mereka musnah. Aku selamat dengan berpegangan pada papan kayu perahu tersebut. Terombang-ambinglah aku di lautan beberapa lama tanpa tahu kemana air akan membawa.

Akhirnya aku terdampar di sebuah pulau yang ada penduduknya. Aku lalu singgah di sebuah masjid. Orang-orang mendengarku membaca Al-Qur’an. Semua orang yang tinggal di pulau tersebut mendatangiku dan berkata, “ Ajarilah aku membaca Al-Qur’an.” Maka, aku pun mendapatkan banyak harta dari mereka (honor mengajar Al-Qur`an –penerj).

Di masjid itu aku melihat beberapa lembar kertas mushaf. Aku pun mengambil dan membacanya. Orang-orang bertanya kepadaku, ”Anda bisa menulis?” ‘Ya,’ jawabku. Mereka berkata, “Ajarilah kami menulis.” Maka, mereka datang membawa anak-anak mereka, baik yang masih kecil maupun para pemudanya. Aku pun mengajari mereka, dan aku mendapatkan imbalan harta yang berlimpah.

Setelah itu, mereka berkata kepadaku, “Disini ada seorang anak perempuan yatim. Ia memiliki banyak harta, dan kami ingin Anda menikahinya.” Aku menolak, namun mereka berkata, ”Ini harus!” Mereka terus memaksaku, dan akhirnya akupun mengiyakan.

Ketika mereka membawa calon istriku itu, mataku terbelalak melihatnya. Kulihat sebuah kalung di lehernya yang membuatku terpaku.

Mereka berkata, ”Wahai Syaikh, Anda telah mematahkan hati wanita yatim ini dengan pandanganmu kepada kalung itu. Mengapa Anda memandangnya seperti itu?”

Aku pun menceritakan kisah kalung mutiara yang pernah kutemukan dulu kepada mereka. Mereka terperanjat, sembari mengucapkan takbir dan tahlil, hingga terdengar oleh seluruh penduduk pulau. Aku bertanya ‘Ada apa dengan kalian?’ Mereka menjawab, “Syaikh, yang memiliki kalung itu adalah ayah wanita ini. Ia pernah mengatakan, “Aku belum pernah menemukan seorang muslim sejati di dunia ini, selain orang yang telah mengembalikan kalung ini kepadaku.” Lalu, ia berdoa, ”Ya allah, kumpulkanlah ia denganku, sehingga aku dapat menikahkannya dengan putriku.” Dan sekarang hal itu telah tewujud.

Aku tinggal di pulau itu, dan aku dikaruniai dua orang anak. Setelah istriku ini wafat, aku mewarisi kalung tersebut bersama kedua anakku. Lalu, kedua anakku pun wafat, sehingga kalung itu menjadi milikku. Aku menjualnya seharga 100.000 dinar. Harta yang kalian lihat bersamaku ini adalah sisa-sisa dari harta tersebut.”

Abu Bakar Muhammad bin Abdul Baqi bin Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Rabi’ bin Tsabit bin Wahb bin Masyja’ah bin Harits bin Abdullah bin Ka’b bin Malik, keturunan langsung dari sahabat Nabi yang terkenal, Ka’b bin Malik Radhiyallahu ‘anh.

Dia merupakan seorang ulama madzhab Hanbali di masanya. Lahir pada tahun 442 H, ayahnya juga seorang ulama madzhab Hanbali. Dia sendiri adalah murid langsung dari Abu Ya’la Al-Farra`. Kelahirannya juga membongkar kedustaan dukun, di mana pada saat dia lahir para ahli nujum meramal usianya tak lebih dari 54 tahun, tapi faktanya di usia 90 tahun dia masih segar bugar.

Kecerdasannya terbukti ketika dia ditawan pasukan Romawi selama satu setengah tahun dan dipaksa murtad tapi dia tidak mau. Di sela-sela penjara dia melihat orang romawi belajar huruf mereka, dia yang hanya memperhatikan akhirnya hafal huruf latin dan bisa menulis dengannya.

(Lihat lebih lengkap biografinya dalam Dzail Thabaqat al-Hanabilah susunan Ibnu Rajab mulai dari hal. 433.

Ibnu Rajab mengakhiri biografi Abu Qasim ini dengan menyebutkan faidah fiqhiyyah dari kisah ini yaitu seorang yang menemukan barang orang lain (luqathah) maka dia harus mengembalikannya kepada orang itu dan tidak boleh menerima hadiah dari sang pemilik, karena itu adalah kewajibannya. Kecuali kalau sang pemilik memberikan itu hanya sebatas ucapan terimakasih (mukafa`ah). Sedangkan dalam kisah tadi sang pemilik telah melakukan sayembara (ji’alah) padahal barangnya sudah ditemukan sebelum Abu Qasim tahu akan adanya sayembara itu. Andai dia mengikuti sayembara dan baru berhasil menemukannya setelah pengumuman sayembara maka dia boleh mengambil upah sayembara tersebut, tapi di sini dia telah menemukan dulu sebelum diumumkan sayembara. Maka kewajibannya adalah mengembalikan dengan suka hati tanpa berharap imbalan. Ini dibahas panjang lebar dalam bab Luqathah di buku-buku fikih.

Moral story dari kisah ini adalah:

  1. Hendaknya kita menjaga amanah, meski dalam keadaan butuh seberat apapun, karena Allah pasti mengganti dengan yang lebih baik. Kisah serupa juga pernah terjadi di Damaskus di era tahun 60-70 an sebagaimana diceritakan oleh Syekh Ali Ath-Thanthawi dalam salah satu bukunya.
  2. Rejeki tak akan kemana, bila sesuatu telah ditetapkan Allah sebagai rejeki kita maka pasti akan dating kepada kita tanpa kita minta sekalipun. Tinggal kita mau ambil dengan cara yang haram ataukah halal. Andai tadi Abu Qasim tidak sabar dan dia curi saja kalung itu maka itu memang akan jadi miliknya, tapi dia dapatkan dengan cara yang haram dan dia akan menanggung dosa yang berat di akhirat. Tapi karena dia sabar meski harus menahan lapar sehingga dia tidak mau mengambilnya dengan cara yang haram maka Allah pun mengembalikan kepadanya dengan cara yang halal dan penuh berkah, dengan bonus istri dan keturunan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.